Senin, 06 Maret 2017

Surat Balasan Dari Guru-Guru Kampung (Buat Ina Santi Sima Gama)

Ina Santi Sima Gama...

Pada beranda malam, dikawani nyala pelita yang meliuk seirama terpaan angin malam, kutulis secarik rangkuman rindu guru-guru kampung dan anak-anak kampung. Rindu yang masih mengental di kota Reinha. Rindu yang kami pasung pulang hingga di pelosok Flores Timur.
Ina Santi Sima Gama...

Sudah dua hari berlalu namun aroma senyummu masih langgeng di serambi kota Larantuka. Sudah tiga malam sarung (bingkisan dari seorang ayah) memintal tubuhmu (anaknya) menuju pulang namun semangatmu masih hangat di bilik pelosok ini. Indah bola matamu masih menyisahkan binar. Hembus lembut ucapmu masih meninggalkan kemilau. Rindu ini semacam candu, ucap seorang ina guru.
Ina Santi Sima Gama...

Engkau begitu anggun diapiti lelaki Lamaholot. Nyalimu melenggang anggun di kerumunan. Khasiat kata-katamu mengasup pelan, merasuk rusuk ama-ama guru. Kiat kalimatmu menghembus halus, membelai gemulai hati ina-ina guru. Sehari seolah tak cukup memadai hingga sebagian peserta masih ingin mengabadikan kebersamaan dalam berlembar-lembar kisah bergambar. Saya yakin, bukan lantaran rupa menawanmu semata namun jalan yang sedang engkau tapaki kini mulai menyulut semangat ina-ina guru, siswa/i dan tak ketinggalan ama-ama guru. Penulis perempuan yang rela berbagi dengan tulus itu, seksi, ungkap seorang ama guru yang tak mau dituliskan namanya.
Ina Santi Sima Gama...

Tutur jujur katamu membenih di sini teristimewa pada taman jiwa kaum hawa. Jengkal langkahmu mengukir jejak di pantai Nagi. Jejak itu akan melacakmu kembali ke lapak tanah ini. Suatu masa, engkau akan menyaksikan penulis muda perempuan menumbuh di Nagi. Benih inspirasi yang kita tabur akan mekar bersama waktu. Pupuk pohon ini adalah kolaboratif kreatif dari pemilik hati yang tulus dan sudi judi badan bersama waktu karena bagi mereka yang tulus berbagi, waktu adalah keabadian.
Ina Santi Sima Gama...

Bangga mendengar ceritamu bahwasannya panggilan jiwa menuntunmu ke tempat ini. Kami tak memberikan bingkisan yang lasim karena kami guru-guru kampung biasa. Kami titip seabrek rasa melalui keping-keping kata yang menata diri dalam aransemen hentakan irama literasi. Sekelumit cerita bahagia ini adalah milik semua kita, pemilik jiwa yang rela memberi diri demi orang lain. Benar kata, Pimred MPC NTT, Kaka Gusty, lelaki yang tak purna ceria itu jikalau ini adalah mimpi kita semua. Mimpi itu mulai terurai. Bersama kita pasti lebih mampu.
Ina Santi Sima Gama...

Dari pinggiran Flores Timur, kami lantunkan santun terima kasih atas kebersamaan yang begitu bersahaja sembari menyisipkan asa kiranya, Matamu Menatap, Hatimu Menetap. Ibu Bumi bimbing juangmu, Perempuan Pena. Amin

#Salam Angkutan Pedesaan#(Amber Kabelen/ Wakil Ketua Seksi Dokumentasi dan Publikasi Agupena Flores Timur)


Pena Adalah Lidah dari Pikiran

PSIKOLOGI MENULIS
Oleh,
SANTI SIMA GAMA, S.Psi
(Dibawahkan pada Seminar Pendidikan tentang Literasi dalam rangka HUT Agupena Flores Timur ke - 2)



Pena adalah lidah dari pikiran.

Tipikal Manusia
  Manusia disebut Homo Scriptor, Makhluk Penulis. Yakni, Makhluk yang mengarah pada literacy. Jika kita tidak menulis, kita melanggar kodrat sebagai homo scriptor.
      Di muka bumi ini  jika dipetakan ada empat tipikal manusia. Pertama, manusia yang pandai berbicara dan pandai menulis. Kedua, manusia yang pandai berbicara, tetapi tidak pandai menulis.  Ketiga, manusia yang pandai menulis tetapi tidak pandai berbicara. Keempat, manusia yang tidak pandai berbicara dan tidak pandai menulis. 

Tentang Psikologi
  Psikologi merupakan disiplin ilmu pengetahuan yang sudah lama muncul (dibanding ilmu-ilmu baru, misal sosiologi atau antropologi) pada abad sebelum masehi. Menurut Kartono, pada hakikatnya psikologi terkait ilmu pengetahuan mempelajari jiwa (mengarah pada tingkah laku) manusia. Psikologi ada dalam kehidupan sehari-hari kita, menguasai emosi kita baik saat kita marah, benci, senang, sedih dan saat kita mencintai. Bahwa manusia itu tidak bisa lepas dari dunia psikologi, kita tidak bisa mengelak hal itu termasuk dalam dunia menulis kita melibatkan psikis.


Tentang Menulis
Menulis bukan hal yang mudah dan bukan hal sulit, bisa dikatakan gampang-gampang sulit. Hanya ada satu modal utama agar kita dapat menulis dengan baik yakni aktivitas membaca. Jadi, menulis dan membaca adalah dua ativitas yang saling berpengaruh. Dengan membaca makin memperkaya kosa kata kita sehingga membuat kita mudah untuk menuangkan segala ide dan gagasan menulis. Jangan berharap kita bisa menulis dengan baik jika kita malas membaca. Inilah faktanya, bukan sebuah adagium

10 Alasan Seseorang Menulis
Menulis membantumu menemukan siapa dirimu
2. Menulis dapat membantumu percaya diri dan bangga
3. Menulis dapat meningkatkan kreativitas
4. Saat menulis, kamu mendengarkan pendapat unikmu sendiri
5. Menulis menunjukan hal yang dapat kamu berikan pada dunia
6. Dengan menulis kamu mencari jawaban atas pertanyaan.
7. Dengan menulis kamu dapat berbagi dengan orang lain.
8. Menulis memberikan kesenangan lahiriah, batiniah
9. Menulis membuatmu lebih hidup, bergairah.
10. Dengan menulis kamu dapat menemukan impianmu 


Hubungan Membaca dan Menulis
  Di Indonesia data yang menunjukan peminat literasi yakni membaca dan menulis masih sangat rendah, prihatin. Menurut data dari The Organisation for Economis Co-Operation and Development, budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di anatra 52 negara di Asia. UNESCO melaporkan kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai tit terendah, 0,001 persen. Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun, miris.  Melihat fenomena yang miris itu, adalah sebuah persoalan genting. Bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah? Minat baca yang rendah mengakibatkan aktivitas menulis terasa sulit.  Bahwa menulis itu tidak hanya melibatkan unsur logika berpikir tetapi juga unsur perasaan yang berkaitan dengan psikis. Mood seseorang sangat berpengaruh terhadap apa yang ia tuliskan. Rasa cemas, kecewa, marah, cinta, rindu merupakan bagian emosi jiwa yang dapat memberi pengaruh besar dalam hasil tulisannya. Jangan memaksa untuk menulis ketika kita merasa di titik lelah.
“Jika Kau Patahkan Pena, Kau Tak Dapat Melukis Sejarah”

Spentig Hewa Tampilkan Musikalisasi Puisi (Mengisi HUT Agupena Flotim ke- 2)


Sabtu, 04/03/17, Aula OMK Larantuka jadi saksi. Anak –anak SMPN 3 Wulanggitang –(SPENTIG) Hewa Kecamatan Wulanggitang Kabupaten Flores Timur menunjukkan kebolehan mereka dalam bersastra dengan membawakan musikalisasi puisi.

Bagi anak -anak SPENTIG, sekolah di kampung bukanlah penghalang untuk berkarya. Apalagi merasa minder dan malu. Justru ini menjadi "kompor" yang membakar semangat bersaing dengan pelajar di kota. Bahwa desa juga bisa seperti di kota. Kalau boleh, dan mengapa tidak, harus lebih.

Kesempatan tampil kali ini adalah dalam rangka mengisi acara seminar mempringati HUT Agupena  Flotim ke-2. Seminar dengan tema "Lestarikan Gerakan Literasi Sekolah" ini diikuti guru dan siswa, praktisi dan pemerhati pendidikan, para wakil rakyat, pekerja media di Flotim, Lembata juga Maumere.

Sebelas orang siswa mengambil bagian dalam pementasan kali ini. Ada Vemi (pembaca puisi), Heri (penyanyi), Siska (gitaris), Reno (penabuh galon air), Steven (penabuh giring2), Andris & Is (pemukul botol kaca), Indri & Julia (peniup rekorder), Lia & Nesti (pemukul bambu). Dengan perannya masing2 siswa/i ini mampu tampil memukau dan menghibur peserta seminar.

Puisi yang dibawakan adalah "Sajak Palsu" karya Agus R. Sarjono. Puisi ini menceritakan tentang kehidupan di negeri ini yang penuh kepalsuan. Bahwa kepalsuan yg melahirkan kebohongan telah mendarah daging di negeri ini. Virus kepalsuan telah mewabah ke seluruh penjuru negeri. Menggerogoti semua sendi kehidupan. Tak luput pula bidang pendidikan. Tempat dimana benih - benih kebaikan mesti disemai. Dan buah kejujuran mesti ditanam. Puisi ini sekaligus berisi pesan bagi pengobral kepalsuan agar meninggalkan cara hidup "lama" ini menuju ke cara hidup jujur. 

Atas kesempatan yang luar biasa ini, terima kasih berlimpah patut diberikan kepada ketua Agupena Flotim, Maksimus Masan Kian atas kesediaan memberikan panggung bagi laskar SPENTIG untuk menunjukkan kemampuan juga mengolah bakat mereka. 

Proficiat buat laskar SPENTIG Hewa! (Geradus Kuma Apeutung/ Koordinator Agupena Flotim, Kecamatan Wulanggitang)


Minggu, 05 Maret 2017

Surat dari Nagi (Kado Untuk Rekan Guru Agupena Flotim)

Selamat Pagi Nagi...
Izinkan kutulis surat ini ditemani secangkir teh manis dan sepiring jagung titi ditaburi kacang rasanya gurih sekali. Masih di tanah nagi, kusapa mentari bersama kicauan burung nuri di depan kamar hotel. Tiga hari memang waktu yang sangat singkat untuk bisa mendeskripsikan secara utuh tentang apa yang kulihat dan kurasakan selama berada di kota kecil ini. Cukup satu kata berharga untuk momen seminar literasi bersama sahabat guru sekabupaten Flotim. 

Kota Reinha, Kota Sejarah... Kota mungil di ujung timur pulau Flores. Namanya tidak asing lagi bagi wisatawan rohani baik domestik maupun wisatawan mancanegara. Sejarah Katolik tercatat di sini. Setiap Jumad Agung didatangi ribuan umat peziarah untuk menginjak kaki dan menyatukan ujud di kotamu. Aku pun pernah jadi salah satu umat peziarah itu, tapi dulu yah dulu sekali saat aku baru dipinang cinta, mencari jati diri sebagai seorang perempuan sejati.

Reinha... Reinha... Reinha...
Nama kotamu begitu kudus, aku pun ingin dikuduskan dalam setiap doa di hati. Terima kasih padamu, yang telah menyambutku dengan iklim yang bersahabat. Terima kasih padamu, telah mendombrak budaya partriarkat yang selalu menempatkan perempuan di belakang laki-laki, yang memandang perempuan sebagai makhluk kedua. Semua pemikiran itu perlahan terkikis oleh sikap-sikap cerdas para pemilik kota ini. Kehadiranku hanya seorang perempuan di tengah pembicara laki-laki dan duduk semeja sudah cukup membuktikan bahwa tidak ada diskriminasi publik figur perempuan.

Reinha... Reinha... Reinha...
Terima kasih padamu, telah menghadirkan guru-guru hebat dan rendah hati ada hasrat ingin belajar dengan kemauan sendiri tanpa ultimatum sang pimpinan. Kutemukan telaga kehidupan pada mata-mata tulus mereka. Sikap bersahaja dan dedikasi mengajarkan saya bahwa betapa kuatnya peran guru bagi masa depan anak bangsa. Santi Sima bukanlah siapa-siapa dan tidak menjadi seperti sekarang jika berhenti belajar mengabaikan jasa para guruku. Merekalah yang sesungguhnya melahirkan bibit-bibit intelektual generasi emas. Tapi mengapa nasib mereka sering dikebiri? Gaji telat, honor minim membuat mereka hidup gali lubang tutup lubang oleh utang yang melilit kebutuhan hidup
Untukmu Guru-Guru Hebat Indonesia...

Di pundak kalian mimpi anak negeri terukir menaruh harapan besar. Sekolah tanpa buku adalah sia-sia. Jadikan buku sahabat harian kita. Jangan patahkan pena, jika kau ingin melukis sejarah. Jangan berhenti menulis karena kita makhluk penulis. Salam Literasi, Salam Edukasi
---SANTI SIMA GAMA---

Larantuka, 5 Maret 2017