Jumat, 26 Mei 2017

PKBM Citra Mandiri, Dirikan Pondok Baca


Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Citra Mandiri Kecamatan Adonara Tengah  berhasil mendirikan sebuah Pondok Baca di Dusun III Desa Wewit Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur. Penggagas memberi nama, Pondok Baca “Wewit Lode Hukun”
Menurut Ramadan Ismail Rais, Direktur PKBM Citra Mandiri, kehadiran Pondok Baca merupakan upaya dan solusi yang diambil demi merangsang minat baca warga usia sekolah di tingkat desa. “Kami coba menghadirkan Pondok Baca di desa ini sebagai upaya dan solusi dalam merangsang minatbaca warga usia sekolah di desa ini, dan juga di desa – desa tetangga, kata Ramadan.
Asy’ari Hidayah Hanafi, salah satu tutor dan pengelolah PKBM Citra Mandiri, mengatakan, Pondok Baca “Wewit Lode Hukun” didirikan selain untuk merangsang minat baca warga sekolah di desa, juga sebagai tindak lanjut di tingkat desa dalam menanggapi surat edaran Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olaraga (PKO) Flores Timur tentang upaya menjadikan Kabupaten Flores Timur sebagai Kabupaten Literasi. Asy’ari Hidayah Hanafi yang juga dalam kapasitasnnya sebagai Koordinator Agupena Flotim Wilayah Kecamatan Adonara Tengah, dipercayakan sebagai Pengelola Pondok Baca tersebut.
Hanafi menambahkan, Pondok Baca “Wewit Lode Hukun“ didirikan secara swadaya atas inisiatif Direktur dan pengelola PKB Citra Mandiri sehingga masih banyak mengalami kekurangan seperti bahan bacaan untuk disimpan di Pondok baca. “Pondok baca yang kami dirikan ini, karena secara swadaya maka masih mengalami banyak kekurangan di sana sini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan bantuan berupa buku dari berbagai pihak demi menambah koleksi pustaka pondok baca ini, kata Hanafi.

Taufik Husen, S.Pd salah seorang guru pada MTs Al-Hidayah Wewit mengatakan bahwa ia merasa terbantu dengan hadirnya pondok baca ini, selain perpustakaan yang ada di sekolah, tempat ini juga menambah perbendaharaan referensi kita sebagai guru pelosok yang sangat sulit mendapatkan buku-buku.
Kepala Dinas PKO Kabupaten Flores Timur, Bernadus Beda Keda, Sabtu (27/5/17) memberi apresiasi atas didirikannya Pondok Baca di Desa Wewit Kecamatan Adonara Tengah. “ Sebagai Kepala Dinas PKO Flotim, saya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga saya atas upaya bersama yang telah kita lakukan dalam mendukung Kabupaten Flores Timur sebagai Kabupaten Literasi. Membangun pondok baca bagi kami adalah sebuah langkah yang kreatif mempersiapkan generasi muda Flotim yang kompetitif dan berkualitas dalam banyak bidang kehidupan,’kata Bernad. (Ary Tocan- Koordinator Agupena Kecamatan Adonara Tengah)


Rabu, 24 Mei 2017

IKTL Gelar Seminar Nasional (Tentang Pendidikan Karakter)



Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) melaksanakan Seminar Nasional selama dua hari Senin- Selasa (22-23/5/17) di Aula terbuka Kampus IKTL yang berlokasi di Waibalun Kecamatan Larantuka. Seminar ini menghadirkan sedikitnya 10 profesor dan 5 Doktor.
Seminar Pendidikan dengan tema “ Pendidikan Karakter Berbasis Multibahasa dan Multibudaya” ini menjadi sejarah baru bagi dunia pendidikan di bumi Flores Timur. Maka tidaklah heran sejak pagi, guru- guru dari segala penjuru Kabupaten Flores Timur sudah berbondong- bondong hadir dan mengikuti secara langsung seminar ini.
Adapun pembicara dalam seminar ini diantaranya; Prof. Putu Kerti  Nitiasih dari Undiksha Singaraja,  Ni Nyoman Padmwadewi dari Udiksha Singaraja, Feliks Tans dari Undana Kupang, I Gede Suranaya Pandir dari Unwar Denpasar, Aron Meko Mbete dari Unud Denpasar, Robert Sibarani dari USU Medan, Ida Bagus Putra Yadya dari Unud Denpasar, I Nyoman Adi Jaya Putra dari Undiksha Singaraja, dan I Wayan Simpen dari Unud Denpasar.

Sementara para Doktor yang hadir sebagai pembicara dalam seminar ini diantaranya, Hugo Warami dari Unipa Manukwari, Maria Agustina Kleden dari Undana Kupang, La Ino dari universitas Halu Oleo Kendari, Maria Mathildis Banda dari Unud Denpasar dan Kanisisu Rambut dari Uniflor Ende.
Pembicara lainnya dari IKTL, Rektor IKTL Vinsensius Lemba, dan Romo Thomas Labina (Dosen IKTL Larantuka) yang juga selaku Ketua Yapesuktim Keuskupan Larantuka.
Rektor IKTL Vinsensius Lemba dalam sambutan pembukaan menyampaikan niat melaksanakan Seminar  Nasional berangkat dari fenomena sosial kehidupan berbangsa hari ini dimana, karakter bangsa mengalami “kerapuhan’. “ Kita perlu merajut bersama dan memperkuat tali persaudaraan dan nilai – nilai berbasiskan kemajemukan bangsa. Dengan seminar ini, kita mampu menggagas dan menemukan kerangka pemikiran yang strategis dalam mendesain pendidikan karakter keindonesiaan bagi generasi baru yang berbasis kearifan lokal,’kata Vinsen.


Kristo Aran, ketua Panitia Seminar Nasional dalam laporannya menyampaikan peserta yang hadir mengikuti kegiatan berasal dari unsur guru dan dosen serta mahasiswa.Kurang lebih 200 guru yang didominasi guru dari luar Kota Larantuka terlibat aktif dalam kegiatan ini. (Humas Agupena Flotim)



Bedah Pracetak Antalogi Puisi "Tapak Tuah" (Karya Pion Ratulloly, Amber Kabelen dan Ary Tokan)


Ubi rebus, pisang rebus, dan sayur daun ubi menemani acara Bedah Pracetak Buku Tapak Tuah Antologi Puisi Tiga Pengajar Muda Flotim malam Senin, (22/05/2017) dari pukul 20.30 sampai 24.00 Wita di Sekretariat Agupena Flotim. Panganan hasil racikan Ama Amber Kebelen, dkk ini laris di lidah para peserta bedah meliputi Silvester Hurit, Lanny Koroh, Ansis Uba Ama, John Hayon, Feris Koten, Tobias Ruron, Faisal Rianghepat, KotakPensil Gracella, Felix Janggu, Wento Eliando, Feris Koten, serta beberapa guru dan pemerhati dunia tulis-menulis. Hadir juga Kepala Puskesmas Waiwadan, Niko Kopong.
Ketua Agupena Flores Timur Maksimus Masan Kian bertindak sebagai pengarah jalannya diskusi bersama ketiga penulis buku ini: Pion Ratulolly, Amber Kebelen, dan Ari Tokan. 

Silvester Hurit dalam kesempatan itu mengatakan, karya ketiga pengajar ini mengangkat kelokalitasan dengan karakter tulisan yang khas yang mewakili kepekaan penulis dalam merespon hal-hal yang ada di sekitarnya.

Perempuan biasa Lanny Koroh yang hadir dalam acara ini,  mengapresiasi salah satu puisi Ari Tokan dan membacakan pula puisi tersebut dengan penuh penjiwaan. Selanjutnya, wartawan Flores Pos Wento Eliando melihat dari aspek gerakan positif anak muda dalam berkarya, termasuk menulis hingga menerbitkan buku.

Selain pangan lokal yang mencerminkan keunikan kegiatan ini, hadir juga dua siswa dari SD Inpres Supersemar dan TKK Anfrida Larantuka yang membacakan puisi. Chintia membacakan puisi Sahabat karyanya, begitupun Ama Doni anak dari Ketua Agupena Flotim yang membacakan puisi Cerdik.
Bedah yang memakan waktu kisaran empat jam ini juga diisi dengan testimoni beberapa peserta terkait proses kreatif masing-masing dalam melahirkan karya.
Di ujung diskusi, Ansis Uba Ama menghimbau kepada para peserta dan khalayak agar memberikan dukungan riil kepada para penulis dengan membeli buku karya para penulis. Sehingga, lanjutnya, keberlangsungan proses berkarya terus berjalan baik.(Pion Ratulolly)

Jumat, 19 Mei 2017

Rekreasi di Air Terjun Naga Kote' (Komunitas Guru Pencinta Alam SMPN 1 Lewolema- Welo)

            Komunitas Guru Pencinta Alam (KGPA) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Lewolema –Welo melakukan rekreasi di Air Terjun  Naga Kote’, Jumat (19/5/17). Sedikitnya 15 guru dan tenaga Tata Usaha terlibat dalam kegiatan ini.
            Naga Kote’ adalah sebuah air terjun yang berlokasi di Dusun Welo Desa Painapang Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur. Letaknya tidak jauh dari pemukiman warga Welo atau kurang lebih sekitar 4km.
Tempat ini jarang dikunjungi, karena selain tertutup, akses jalan menuju ke tempat ini cukup sulit karena harus melewati jalan setapak yang terjal, naik bukit, menuruni bukit dan harus menyusuri kali sebelum mendapatkan keindahan dan keasrian Air Terjun Naga Kote’

Berebekal air minum dan makanan ringan, Komunitas Guru Pencinta Alam SMPN 1 Lewolema  bergegas dan sekolah kisaran pukul 07.30 wita. Keluar dari perkampungan Welo melintasi jalan seminisasi yang merupakan jalan usaha tani. Sekitar 500km. Lepas dari jalan seminisasi memasuki jalanan berbatu namun diameter jalannya cukup lebar. Di pinggir kiri kanan jalan, ditemukan hamparan kebun jambu mete milik warga Welo yang  menjadi salah satu ikon hasil kebun di kampung ini. Setelah menempuh jarak sejauh 1km, kita akan memasuki jalan setapak berbatu yang akan menguji nyali seorang petualang melewati tempat ini.
Dibawah pimpinan Albertus Maran, Koordinator  KGPA guru SMPN 1 Lewolema yang tergabung dalam komunitas ini berjibaku dengan jalan dengan medan yang cukup sulit. Tak jarang kita harus memeluk bumi sekedar menahan keseimbangan tubuh untuk mencapai puncak tertentu. Rasa sulit ini, sedikitnya terobati dengan bunyi gemerincik air kali yang tidak jauh disisi kiri jalan yang dilewati dan pula bunyi burung yang khas membawa imajinasi kita pada keindahan dan keasriaan alam kita yang menjadi kekayaan kita.
Sebelum tiba di air terjun, kita harus menuruni jalan yang terjal untuk masuk di aliran kali. Di tempat ini, butuh kehati- hatian, dan keseimbangan tubuh yang baik, karena jika  tubuh tidak seimbang bukan tidak mungkin, bisa jatuh di bawah jurang. Untuk  membantu menuruni jalan ini adalah, dahan pohon yang ada di sekitar jalan, tali dari pohon yang bergantung dan beberapa batu yang tetancap di tanah sebagai peganganan kita. 

Setelah menuruni jalan ini, kita akan tiba di aliran kali. Memang, untuk mendapatkan hal yang indah, menarik dan luar biasa tentu membutuhkan pengorbanan. Di kali kita masih diuji dengan lompatan dekat dan lompatan jauh dari satu batu ke batu yang lain. Jika tidak berhati – hati bisa tercebur ke dalam aliran kali, karena selain jarak batu yang satu dengan yang lain berjauhan, juga ukuran batu yang tidak sama dan permukanan yang licin.


Semua perjuangan selama satu setengah jam, capeh letih, lelah dan tetesan keringat terbayar, saat melihat indahnya air terjun Naga Kote’. Tinggi kurang lebih 30 meter. Alirannya begitu kuat menghasilkan desiran- desiran dan bunyi yang memberi kesan begitu alami. Tak menunggu waktu yang lama, rombongan guru SMPN 1 Lewolema yang rata – rata baru pertama berkunjung ke tempat ini langsung mengabadikan momentum hari itu dengan berfoto selfi, mandi, dan meluapkan kegembiraannya. Semuannya terbayar. 3 jam lamanya menikmati keindahan alam ini, hingga akhirnya kembali ke Kampung Welo pada Pukul 12.00 Wita.
Solirus Soda, Kepala SMPN 1 Lewolema pada kesempatan itu mengatakan tujuan dilakukan rekreasi adalah kembali merefresh segala kepenatan guru selama kurang lebih satu semester ini menjalankan tugas.” Kita butuh rekreasi untuk kembali menghidupkan semangat kita agar dengan semangat yang baru memberi inspirasi tersendiri bagi guru dalam mengolah pembelajaran di kelas. Ini akan dilakukan rutin dengan pemilihan tempat yang berbeda,’kata Solirus. (Maksimus Masan Kian)