Minggu, 09 Juli 2017

Giatkan Kelompok Menenun, Bantu Perekonomian Keluarga (Oleh Ibu- Ibu Rumah Tangga di Lewokemie Kecamatan Witihama Pulau Adonara)

Tak banyak berpikir, apalagi melakukan. Era globalisasi dengan melejitnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi membuat banyak orang berharap gampang dan melakukan yang instan untuk mendapatkan sesuatu. Usaha dan kerja keras serta kearifan lokal yang ditinggalkan oleh leluhur nenek moyang perlahan terabaikan. Kurang dilirik, sebagai usaha kreatif yang bisa mendongkrak perekonomian keluarga.
            Tentunya, tidak cukup dengan hanya mengandalkan ijazah tanpa ada keterampilan. Sekian banyak sarjana bahkan magister harus terkurung dalam rumah karena hanya mengandalkan titel dan Indeks Prestasi Komulatif (IPK). IPK menjadi ukuran di Kampus saat kuliah dulu, namun saat terjun ke duni kerja, yang sangat dibutuhkan adalah ketrampilan. Paduhkan ijazah dan keterampilan maka pengeluhan akan lapangan pekerjaan yang sulit tidak menjadi penghalang. Ciptakan mindset “Saya tidak mencari atau melamar pekerjaan tetapi pekerjaan yang mencari dan melamar saya”
            Ibu-ibu di Lewokemie Kecamatan Witihama Pulau Adonara bermindset positif dalam mengembangkan usaha – usaha kreatif di kampung dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di kampung itu. Mereka tergabung dalam Kelompok Menenun yang diberi nama “Seni Tawa”. Kelompok ini melibatkan Mama- mama dan juga beberapa gadis yang berminat untuk belajar menenun. Dengan memanfaatkan teras rumah dan peralatan serta bahan seadanya, mereka mampu menenun dan menghasilkan berbagai motif sarung Lamaholot khususnya Adonara. 

Ursula Masi Ina Ketua Kelompok Tenun “Seni Tawa” Lewokemie, ditemui di Lewokemie Rabu (5/7/17) mengatakan usaha menenun di Lewokemie awalnya dijalankan oleh beberapa Ibu saja, kemudian berkembang hingg duapuluan Ibu Rumah Tangga terlibat bersama mengembangkan usaha ini. “Menggeluti usaha ini, awalnya hanya beberapa Ibu Rumah Tangga yang menjalankannya. Kami berangkat dari keterampilan kami yang ada dan peralatan serta bahan yang tersedia. Kurang percaya diri juga saat memulai usaha ini, karena jarang usaha menenun dijalankan secara bersama – sama seperti ini. Biasanya secara pribadi – pribadi. Namun dari hari ke hari, ternyata hasilnya lumayan. Selain sarung yang kami hasilkan digunakan sendiri, tetapi juga sudah mendatangkan keuntungan secara finasial yang dapat membantu keluarga dari sisi ekonomi. Kebutuhan akan sarung juga tinggi misalnya saat kematian, acara pernikahan dan ritual – ritual adat lainnya. Ini yang memacu kami untuk terus giat menekuni usaha ini. Kami berharap, semoga ada bantuan dari pemerintah dalam meningkatkan usaha kami ini semisal menyiapkan tempat yang lebih luas untuk kami menenun dan juga bahan – bahan yang kami butuhkan untuk menghasilkan tenunan yang lebih berkualitas,kata Ursula Masi Ina.
Jujur, ketrampilan menenun untuk gadis - gadis Adonara saat ini bisa dihitung. Sangat sedikit dari banyak gadis. Jika keterampilan menenun para gadis dibandingkan dengan kemampuan mengendari sepeda motor dan memainkan game dalam Hanpon android maka, perbandingan begitu jauh. Profisiat dan apresiasi untuk gadis - gadis Adonara yang selain cantik juga pandai menenun. Bagi Penulis, kecantikan gadis Adonara, diukur juga dari sejauh mana keterampilannya untuk menenun. (Maksi Masan Kian)

Kamis, 06 Juli 2017

Bupati Flotim Disambut dengan Tari Perang(Saat Menghadiri Halal Bi Halal di Kecamatan Witihama)



Sejak pagi, tidak seperti pagi- pagi sebelumnya, Selasa (4/7/17) duaribuan umat Islam dan Katolik se Kecamatan Witihama sudah berkumpul di Namatukan. Namatukan ( tempat berkumpul atau berhimpunya semua kekuatan lewo;kampung). Namatukan tempat di Jantung Kecamatan Witihama. Tempat ini biasanya, dimanfaatkan untuk berkumpul bersama, bermusyawarah dan menggelar kegiatan umum lainnya.



Umat Islam lebih dulu memadati pelataran Namatukan, persis disamping Mesjid Besar At- Taqwa Witihama,  Desa Oringbele Kecamatan Witihama. Sementara tak jauh dari tempat ini, sekitar 50 meter umat Katolik sudah berkumpul di Pelataran Gereja Paroki Pembatu Abadi Witihama. Gereja dan Mesjid di Witihama dibangun berdekatan. Oleh leluhur nenek moyang di Witihama kala itu, menurut tutur yang turun temurun, dulu saat pembangunan Mesjid, umat Katolik bergotong royong bersama umat islam untuk sama – sama membangun. Sebaliknya saat umat Katolik membangun gereja, umat Islam ramai – ramai bergotong royong dengan umat katolik untuk membangun gereja. Hingga saat ini, gotong royong yang seperti ini tetap ada dan terus berlanjut.


Umat Katolik yang sudah berkumpul di Pelataran Gereja, dibawah pimpinan Pastor Paroki, Romo Amatus Witak, PR, Tokoh Agama Arnol          Sabon bergerak menuju ke Namatukan pusat silaturahmi antara umat katolik dan islam. Di Namatukan, sudah berjejer umat Islam yang siap menyambut Umat Katolik. Salam – salaman, saling sapa, berpelukan antara sesama satu rahim beda agama ini. Rahim Lamaholot  yang telah mengikat kuat tali persaudaraan beratus- ratus tahun lamanya.

Diatas duaribuan umat yang sudah berkumpul di Namatukan sebagian mengarahkan perhatian ke pintu masuk Kecamatan Witihama menanti kehadiran Bupati Flores Timur (Flotim) Antonius Gege Hadjon. Sebagian lainnya mengikuti acara – acara hiburan rohani yang ditampilkan secara bergilir dari masing- masing desa Se- Witihama termasuk di desa tetangga.
Bupati Flotim yang ditunggu tiba bersama rombongan Anggota DPRD Flores Timur Sahar Libu Pati, Polikarpus Blolo,  Akhmad Muktar, Dandim Larantuka Anggota DPRD NTT Anwar Hajral disambut dengan tarian perang (Hedung). Sebelumnya diterima secara adat dengan menyuguhkan sirih pinang, meneguk tuak (minuman khas Adonara), dan pengalungan selendang adat.
Tari Perang adalah sebuah Tarian Adat Flores Timur khususnya di Pulau Adonara yang bermakna kemenangan. Dari kata hedung (menang). Tarian tradisonal ini dibawahkan oleh penari pria dan juga wanita. Menurut cerita, dulu di Adonara sering terjadi perang antar suku dan kampung. Tarian ini dibawhkan sebelum berangkat Perang  untuk keselamatan saat perang dan saat pulang dari medan perang. Penyambutan mereka yang mengikuti perang sebagai pahlawan.  

Dewasa ini, Tari Perang dibawahkan untuk menyambut tamu terhormat. Bupati Flotim Anton Hadjon bersama rombongan hari itu menjadi tamu terhormat. Khusus untuk Bupati Flotim Anton Hadjon, Tari Perang yang dibawahkan oleh warga Witihama sebagai simbol penyambutan seorang pahlawan yang baru memenangkan “perang” Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Flores Timur Periode 2017- 2022 bersama Wakil Bupati Agustinus Payong Boli. 

Anton Hadjon pada kesempatan itu, dihadapan Warga Witihama menyampaikan terima kasih atas dukungan warga dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kemarin. “Terima kasih ini, tidak hanya saya alamatkan kepada warga yang memilih kami, tetapi untuk semua warga. Pilkada sudah usai, dan perbedaan itu sudah selesai. Momen hari ini sangat baik untuk menyatukan kembali perbedaan – perbedaan yang ada menjelang Pilkada kemarin. Saatnya kita membangun. Modal untuk bisa membangun adalah kerja sama dan dukungan dari segenap warga sekalian. Tidak ada lagi “Bereun” yang ada adalah “Bereun Senaren”,” tandas Anton Hadjon.(Maksi Masan Kian)


Bupati Flotim Hadiri Halal Bi Halal di Witihama

Bupati Flores Timur (Flotim) Antonius Gege Hadjon menghadiri acara Halal bi Halal yang dilaksanakan oleh Pengurus Masjid Attaqwa, Witihama (Selasa, 4/7/2017) di halaman Masjid Attaqwa, Desa Oringbele, Kecamatan Witihama. Bupati hadir bersama rombongan Anggota DPRD Flores Timur Sahar Libu Pati, Polikarpus Blolo, dan Akhmad Muktar serta Dandim Larantuka. Hadir pula Anggota DPRD NTT Anwar Hajral.

Dalam sambutannya, Bupati Anton menyampaikan, bicara Pancasila maka bicara NTT, bicara Flotim, bicara Adonara, dan bicara Witihama. "Momentum Halal bi Halal hari ini yang dihadiri juga oleh umat Katolik menjadi bukti bahwa Witihama adalah daerah yang memiliki toleransi yang tinggi," tandas beliau. Mantan Anggota DPRD Flotim ini, juga mengajak seluruh masyarakat untuk menghargai setiap perbedaan yang ada. "Perbedaan ini adalah sunnatullah dan harus diterima secara baik sehingga menjadi sebuah kekuatan untuk membawa Flores Timur ke arah yang lebih baik," tegasnya.


Ustadz Awaludin Husein dalam tauziah Halal bi Halal mengatakan, Halal bi Halal adalah salah satu tradisi Islam Indonesia yang tidak ada di negara lain. "Nilai positifnya adalah kita bisa saling memaafkan dan menjaga kerukunan," terangnya. Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Flotim ini juga mengatakan eforia Pilkada DKI jangan sampai merusak tatanan toleransi masyarakat Witihama. "NTT pernah mendapatkan Harmony Award kategori Provinsi Toleransi karenanya kita wajib menjaga predikat ini," katanya.
Mewakili Umat Islam, Akhmad Muktar menyampaikan, pentingnya pendekatan budaya dalam membangun masyarakat. "Secara historis, gereja dan masjid di sini dibangun secara bersama-sama oleh umat kedua agama ini.

Pastor Paroki Witihama, Romo Amatus Witak dalam sambutan mewakili Umat Katolik mengatakan, hal yang lebih penting dari Halal bi Halal adalah efeknya dalam kehidupan selanjutnya. "Manusia harus saling memaafkan sehingga mampu menyelamatkan manusia lain juga kehidupan alam semesta," ungkapnya.
Hadir  dalam acara kekeluargaa ini, Bupati Flores Timur, Dandim Flotim, Anggota DPRD Flotim khusus Dapil IV, Camat Witihama, Imam Mesjid se - Kecamatan Witihama, Pastor Paroki Witihama, Kepala Desa se- Kecamatan Witihama, Kepala- kepala Sekolah se- Kecamatan Witihama, Pengurus Agupena Flotim, dan sedikitnya duaribuan umat (Islam & Katolik) se - Kecamatan Witihama. (Muhammad Soleh Kadir – Pengurus Agupena Flotim)


Dari Witihama, Sebarkan Misi Toleransi Untuk Indonesia

"Dari Witihama, sebarkan misi toleransi antar umat beragama (Islam & Katolik) untuk Indonesia. Witihama menjadi ikon toleransi di Adonara, Flores Timur - NTT. Flores itu artinya bunga, dan diujung Flores Timur ada Adonara, Solor, Lembata dan Larantuka yang terbingkai dalam ikatatan budaya Lamaholot. Tentang bunga di sebuah taman, tak indah kalau hanya satu bunga. Taman itu indah kalau bunga mekar beraneka warna. Demikian tentang keyakinan. Islam, Katolik memberi warna sendiri dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. Itu sangat indah. Toleransi antar umat beragama yang saya lihat langsung hari ini di Namatukan, Lewo Witihama Adonara sangat indah. Ikatan kebersamaan begitu kuat walau berbeda agama. Demikian sepenggal isi hati yang keluar dari bibir Bupati Flores Timur, Antonius Gege Hadjon pada Acara Halal bi halal tingkat Kecamatan Witihama, Selasa (4/7/17).

Namatukan hari itu jadi saksi bertemunya ribuan umat (Islam & Katolik) se- kecamatan Witihama merayakan acara kebersamaan mempererat tali silaturahmi. Momentum ini tidak untuk gagah gagahan atau seremonial belaka, namun kebersamaan ini lahir dari penyatuan hati saling menerima, saling menghargai yang berlangsung berpuluh puluh tahun lamanya, sejak Lewo (kampung) ada yang diletahkan oleh para leluhur.

Muhammad Moctar, Anggota DPRD Flotim pada kesempatan itu, mewakili umat Islam se- Kecamatan Witihama, mengatakan tali persaudaraan antar islam dan katolik sudah ditanamkan oleh leluhur dan diwarisakan turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Menurutnya bukan lagi mempererat toleransi tapi, tuga kita adalah menyiram dan memupuk toleransi antar umat beragama (Islam dan Katolik) di Lewo Witihama. "Pohon toleransi sudah ditanam oleh leluhur kita, tugas kita adalah menyiram dan terus memupuk agar dapat memetik buah kedamaian, kerukunan, saling menghargai dan menerima satu dengan yang lainnya,"kata moctar.

Ketua Panitia Hari –Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Besar AT- Taqwa Witihama, Jamil Demon Sesa, mengatakan bangga dengan kerukunan antar umat beragama yang telah, dan terus terpupuk sebagai sebuah kekayaan yang tak ternilai harganya. “Kami sebagai penyelenggara kegiatan ini merasakan bangga karena momentum seperti ini secara tidak langsung terus memupuk kerukunan antar umat beragama. Bagi saya, kerukunan antar umat beragama di Witihama adalah harta yang tidak ternilai harganya, karena hal ini adalah warisan leluhur dari generasi ke generasi, kita patut menjaganya,”kata Jamil

Kurang lebih dua ribuan umat (Islam & Katolik) terlibat dalam acara kekeluargaa ini. Hadir pada kesempatan itu, Bupati Flores Timur, Dandim Flotim, Anggota DPRD Flotim khusus Dapil IV, Camat Witihama, Imam Mesjid se - Kecamatan Witihama, Pastor Paroki Witihama, Kepala Desa se- Kecamatan Witihama, Kepala- kepala Sekolah se- Kecamatan Witihama, Pengurus Agupena Flotim, dan perwakilan umat (Islam & Katolik) se - Kecamatan Witihama (Maksi Masan Kian)