Rabu, 06 September 2017

Buah Dari Gerakan Secara Swadaya (Agupena Flotim kembali mendapat sumbangan buku)

Tetap setia pada gerakan secara swadaya, memberi hasil yang signifikan. Pelan, perlahan, namun jika terus menjaga komitmen, buah buah perubahan itu akan dipetik.
Mimpi menciptakan iklim ilmiah di Flores Timur itu, terlalu tinggi, terlalu jauh, terlalu besar dan mungkin sulit untuk dicapai. Tapi tentang mimpi, harus tinggi, harus besar dan harus jauh ke depan. Gerakan, proses yang terus menerus akan menghantar kita meraih mimpi itu. Mengutip apa yang disampaikan oleh Bapak Proklamator Ir. Soekarno, "Bermimpilah setinggi langit, sehingga jatuh sekalipun, berada diantara bintang - bintang"
Hari ini, Rabu (6/9/17) Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Flores Timur kembali mendapat sumbangan buku bacaan untuk kalangan dewasa. Kali ini, Agupena Flotim mendapat sumbangan buku dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang beralamat di Jl. Pangkalan Jati No. 71 Cinere-Depok. Sedikitnya 18 judul buku, dengan jumlah buku sebanyak 53 buku. 

Sumbangan buku ini, bisa tiba di Sekretariat Agupena Flores Timur, berkat bantuan tulus dari seorang putra daerah Flotim asal Desa Blepanawa Kecamatan Demon Pagong, Fidelis Lein. Mantan Ketua PMKRI malang, periode 1997-1998 ini, satu dari sekian putra daerah yang peduli akan perkembangan pendidikan di Flotim. Tinggal di Bekasi, dalam kesibukannya sebagai Manager Keuangan dan Administrasi Perhimpunan Indonesia untuk Pembinaan Pengetahuan Ekonomi dan Sosial juga sebagai Sekjen Perhimpunan Keluarga Titehena Sejabodetabek tidak menyurutkan semangatnya untuk berbagi.
Mewakili seluruh teman teman Agupena Flotim menyampaikan terima kasih kepada pihak LP3ES yang turut berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Flores Timur. Untuk Kaka Fidelis Lein, kami berharap kita tetap berkolaborasi dalam mendukung gerakan gerakan positif di Flores Timur. 

Buku buku yang ada akan menambah refrensi buku di Perpustakaan Agupena Flotim, yang dapat membantu guru guru di Flotim untuk membaca, menulis dan atau melakukan penelitian. (Maksimus Masan Kian)


Selasa, 05 September 2017

Gudang Jambu Mente di Flotim Itu Ada di Belogili




Siapa saja yang pernah berkunjung ke Belogili, Desa Balukherin tentu tahu dan sepakat bahwa wilayah ini menjadi gudang jambu mente untuk Kabupaten Flores Timur (Flotim). Bagaimana tidak, hampir semua tempat di Belogili ditanami jambu mente. Jambu mente mendapat tempat di hampir semua wilayah Belogili.
Desa Balukherin menjadi salah satu desa dari 6 (enam) desa di Kecamatan Lewolema, Flotim. Komoditi asli dan utama di desa ini adalah jambu mente. Pohon jambu mente dapat kita temui di setiap halaman rumah warga, baik di halaman depan, samping ataupun belakang. Jika di halaman rumah saja demikian, maka praktis, warga Belogili tidak memiliki lahan untuk usaha jenis komoditi lainnya. Semua lahan digunakan untuk menanam jambu mente. 

Warga dengan pekerjaan pokok petani, selain beberapa rumah sebagai nelayan, sangat bergantung pada hasil komoditi jambu mente. Tahun ini, boleh dibilang berkat untuk warga Belogili secara khusus dan warga Flores Timur pada umumnya. Hasil mente di wilayah ini sangat bagus dan memuaskan.Ditambah harga perkilogram mente Rp. 25.000 saat ini membuat warga dapat tertolong dari kesulitan ekonomi.
Salah satu warga Belogili Desa Balukherin Frengki Koten ditemui, Selasa (5/9/17) mengatakan, hasil panen mente tahun ini lumayan bagus, termasuk harga yang sangat pas jika dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. “Hasil panen mente tahun ini lumayan bagus, termasuk harga juga sangat pas jika dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Di Belogili, sehari panen bagi warga yang memiliki kebun mente yang luas bisa mencapai Rp. 2.500.000 sampai Rp. 5.000.000. Bahkan jika hasil seperti ini bertahan terus hingga akhir musim mente, masyarakat bisa meraup keuntungan diatas Rp.20.000.000 bahkan lebih dari angka itu, kata Frengki.
Frengki menambahkan, untuk wilayah Belogili warga menimbangnya di Kota Larantuka. “Hampir semua warga menimbang hasil mentenya di Kota Larantuka. Hanya ada satu dua kios yang menimbang langsung dari petani. Namun rata- rata warga sendiri menimbang langsung di Kota Larantuka. Jika sebelumnya mobil hanya sekali jalan ke Larantuka, saat musim mente mobil bisa bolak- balik dua hingga tiga kali, “tutur Frengki.
Hal yang sama disampaikan Yuliana Ruron, Warga Desa Painapang Kecamatan Lewolema. Menurut Yuli, hasil panen jambu mente tahun ini sangat menjanjikan. “Di Desa Painapang, khususnya di Dusun Welo, warga berani menyewa orang dengan bayaran perorang untuk satu hari berkisar Rp. 50.000- Rp. 100.000. Rp. 50.000 untuk anak anak sekolah usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Rp. 100.000 untuk orang dewasa. Warga berani menyewa orang untuk memetik jambu mente karena hasilnya panennya sangat bagus. Berharap, kondisi ini tetap bertahan hingga musim mente tahun ini berakhir,”kata Yuli (Maksimus Masan Kian)

Minggu, 03 September 2017

ASN di Flotim Tersenyum Gembira Mengenakan Busana Lamaholot (Ramai – Ramai Posting di Facebook)


Aparatur Sipil Negara (ASN) struktural di Kabupaten Flores Timur, tersenyum gembira mengenakan pakian adat Lamaholot pada apel hari Senin, minggu pertama dalam bulan, Senin (4 September 2017). Puluhan ASN meluapkan kegembiraan itu dengan ramai – ramai memosting foto di media sosial (Facebook)
Postingan di facebook, dilakukan oleh ASN baik secara sendiri – sendiri, berkelompok juga foto bersama dalam satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tersebar di akun – akun pribadi maupun di grup.

Beberapa ASN Flotim yang melakukan postingan  di Facebook menggenakan busana Lamaholot, hari ini Senin (4 September 2017) diantaranya; Carollyna Jerillyano dengan caption “Kite pagi ini... Apel minggu perdana dlm bulan perdana busana lamaholot...HS04092018” berikut Annisa Abd “ Dalam Balutan tenun ikat Lamaholot”, Nova Pary “ Apel Pencanangan Busana Motif Daerah FLOTIM....hari ini bernuansa nowing dan kwatek,  Ida Bazlon “Apel Pencanangan berbusana Daerah kab.flotim 04092017...,Dave Valentino Mautuka #apel_minggu_pertama_bulanan #hari_pencanangan_penggunaan_pakian_adat_tana_lamaholot_4_september_ 2017, Isabela Inguliman “Selamat pagi...kami hari ini. Pencanangan pakian adat motif lamaholot, Mersy Wangge “Flotim hari ini dlm busana lamaholot #asnflotim#, Le Densey “Langah baru: Lestarikan budaya lamaholot pada pencanangan pakian dinas daerah flores timur #senae #kewatek senin pertama dalam bulan untuk lingkup ASN Pemda Flotim oleh Bupati Flores Timur Anton Hadjon, hari ini di Larantuka.....#flotimbisa, Indah Jayanti Nimun “Putri2 Yerusalem, Nick Doren “Keluarga Besar BLPP Kab. Flores Timur dalam balutan nowing dan kwatek Lamaholot #Cinta Busana Lamaholot, Blateran Eddy “Untuk pertama kalinya...pakian adat tana lamaholot Flores Timur digunakan pada Hari Senin 04 September 2017 sesui PERBUP FLORES TIMUR Nmr 49 Tahun 2017. Tentang pakian dinas PNS lingkup Kab. Flores Timur dan Instruksi Bupati Flores Timur nomor HK. 188.5.55/I/2017, Igo Atakiwang “Ketika org pada tersenyum gembira mengenakan pakian daerah, lalu ada orang yang berkomentar “norak dn kampunga” maka orang itu hrs segera ke dokter jiwa krn cacat mental, Yanti Bolly #serbaserbibusanaadatflotim# senin pertama dalam bulan, Yuliyanti Sogen “apel perdana Mencanangkan Pakian Adat Lamaholot Lingkup Kabupaten Flores Timur #KotaLarantuka #Distan,YunniTami#nowingdankwatek#khasflorestimur#budayalamaholot#dinaspertanian#bidangpenyuluhan@Larantuka Flores Timur, Ethe Tukan “Berkebaya Kite”

Publikasi di media sosial memberi efek positif sebagai media informasi yang bisa menembus ruang dan waktu. Mampu memberi kabar kepada siapa saja di seluruh dunia. Hari ini semua mata tertuju pada Kabupaten paling timur Pulau Flores ini. Telah lahir, sebuah terobosan baru yakni mengenakan pakian adat Lamaholot pada apel resmi protokoler.
Pilihan inilah yang dinamakan aksi. Orang tidak melihat sebesar apa atau secangih apa konsep dan gagasan, tetapi bagaimana ide ide kecil terealisir. Kepemimpin Bupati Flores Timur, Antonius Hadjon dan Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Boli, sepertinya terus berupaya sambil belajar melakukan sesuatu yang lebih baik untuk kemajuan Flores Timur. (Maksimus Masan Kian)


Besok Semua ASN di Flotim Menggenakan Pakian Adat Lamaholot (Apel Hari Senin, Minggu Pertama dalam Bulan)



Informasi terkait pengenaan Busana Adat Lamaholot pada apel  setiap hari Senin, minggu pertama dalam bulan ramai dibicarakan akhir pekan ini. Menurut keterangan dari beberapa Aparatur Sipil Negara (ASN) di Flotim yang tidak mau menyebutkan namanya, mengatakan berdasarakan surat himbaun dari Bupati Flores Timur, setiap hari Senin, minggu pertama dalam bulan untuk ASN Struktural, saat apel mengenakan busana adat Lamaholot. Aturan ini mulai diberlakukan Senin, 4 September 2017.
Di kota Larantuka, hingga malam ini berdasarkan pantauan kabarflotim, beberapa ASN nampak sibuk meminjam nowin (sarung adat Lamaholot untuk laki- laki) dan Kewatek (Sarung adat untuk perempuan). Untuk busana laki – laki, nowin akan dipadukan dengan baju kameja lengan panjang berwarna putih, sementara untuk perempuan kewatek dipadukan dengan baju kebaya. Kondisi ini mengambarkan, tidak semua ASN memiliki Nowin dan Kewatek.

Nowin merupakan tenun ikat yang dalam hal pewarnaannya datar dan tidak mencolok. Ragam hias Nowin berbentuk garis-garis. aksessoris lain yang dapat dipadukan diantaranya; Kenobo (kain yang dililit dibagian kepala), Kalabala (gelang gading). Sementara bagi perempuan yang mengenakan kewatek, aksessorisnya lainnya dapat berupa, Mahkota Bulan (Kiri Belaon) yang terletak dibagian kening adalah simbol “Rera Wulan Tanah Ekan” sebagai penerang atau sumber cahaya. Sidok; yakni kalung yang terbuat dari manik-manik batu berkoombinasi emas, lodang, gelang gading (kalla), anting-anting dan Cincin.
Terobosan yang dilakukan Bupati Flores Timur, Antonius Gege Hadjon bersama Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, menghimbau atau mewajibkan setiap ASN pada apel hari senin, minggu pertama dalam bulan menggunakan busana adat Lamaholot tentu memiliki dasar pertimbangan. Tak bisa disangkal, saat ini busana, kain atau sarung adat kita (baca: Lamaholot) banyak digemari dan dikenakan oleh orang – orang dari luar Flores Timur. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mantan pembawa acara Mata Najwa, Najwa Sihab, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, dan beberapa pejabat serta artis di tanah air pernah dan hingga saat ini sering menggunakan pakian adat Lamaholot yang sudah dimodifikasi menjadi baju,kebaya dan atau rok pada acara acara resmi kenegaraan.
Langkah ini menyadarkan kita sebagai pemilik pakian adat Lamaholot yang begitu kaya untuk berefleksi dan bersama – sama bergerak untuk mencintai adat budaya kita, mencintai pakian adat kita. Kita harus bangga mengenakan pakian adat Lamaholot. Pakian adat Lamaholot harus menjadi kebanggan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang datang berkunjung ke Flores Timur.
Jika setiap warga sudah menyadari akan pentingnya mengenakan busana Lamaholot, bukan tidak mungkin, usaha – usaha kreatif yang dibangun oleh ibu- ibu di Flores Timur dalam mengembangkan usaha menenun busana Lamaholot bisa berkembang dan dari sisi perekonomian dapat terdongkrak. (Maksimus Masan Kian)