Selasa, 17 Oktober 2017

Launching dan Bedah Buku Tapak Tuah Terbuka untuk Umum (Ajak Ketiga Penulis;Pion Ratulolly, Ary Tokan dan Amber Kabelen)

Kegiatan Launching dan Bedah Buku Tapak Tuah, terbuka untuk umum. Karenanya, siapa saja boleh ikut kegiatan ini.

Launching dan bedah ini tidak hanya untuk satu golongan saja. Tidak hanya untuk guru saja atau pegiat literasi semata. Namun, terbuka untuk semua kalangan. Entah masyarakat pendidikan, masyarakat sosial, atau masyarakat agama dan masyarakat adat sekalipun boleh
.
Kegiatan ini juga tidak memungut biaya. Tanpa tiket atau karcis masuk maupun registrasi peserta. Ini, pyur sebagai salah satu upaya pembentukan iklim ilmiah di Kabupaten Flores Timur.

Acara ini juga sebagai ajang untuk promosi buku ini. Sehingga, bila ingin mendapatkan buku Tapak Tuah, silakan datang pada momen ini. Harga buku bisa dijangkau, Rp.50.000. Harga ini sesungguhnya untuk membayar ongkos pencetakan dan pendistribusian.


Keuntungan membeli buku ini, Anda tidak hanya menikmati keindahan puisi-puisi dalam Tapak Tuah. Tidak hanya merasakan getaran kekuatan imajinasi dari karikatur-karikatur yang ada. Tapi sesungguhnya, Anda telah mendukung upaya terwujudnya Gerakan Literasi di Kabupaten Flores Timur. Karena, hasil dari penjualan akan ditabung untuk penerbitan buku-buku anak muda Flores Timur selanjutnya.

Sebab itu, hadirilah Launching dan Bedah Buku Tapak Tuah, Antologi Puisi Tiga Pengajar Muda Flores Timur, Pion Ratulolly, Ari Toekan, dan Amber Kabelen . Waktunya Sabtu ini, 21/10/2017 pukul 08.00 sampai selesai. Tempatnya di aula MTsN Waiwerang, Desa Lamahala, Kecamatan Adonara Timur.(Pion Ratulolly)


Senin, 16 Oktober 2017

Penampilan Zaeni Boli dan Kawan – kawan Memukau Penonton (Pertunjukan Seni Teater OMBA- dah yang Disutradarai oleh Silvester Hurit)

Penampilan Zaeni Boli dan kawan - kawan mampu menggiring para penonton untuk menertawakan diri sendiri. Beberapa adegan sempat mengetuk kesadaran para penonton akan gaya hidup masa kini yang enteng melenceng dari kebermaknaan. Panggung taman kota malam itu, sungguh milik anak muda.

Saya Lamaholot, Deket Lewo Tanah. Judul lagu yang dibawakan oleh paduan suara siwa-siswi SMAK Frateran Podor, Larantuka mengiringi rombongan Bupati Flotim yang mengantri antri langkah menuju tenda di Taman Kota, Senin malam (16/10/17). Acara ini merupakan sebuah rangkaian kegiatan memperingati Hari Anti Narkoba Internasional. Pada momentum tersebut diisi dengan pencanagan Gerakan Selamatkan Anak Muda Flotim dari Bahaya Penyalagunaan Narkoba.

Rintik sempat menyinggahi panggung taman kota malam itu. Namun tak mampu menurutkan semangat para undangan dan penonton manakala Nara Teater menampilkan suguhannya berjudul OMBA-dah yang disutradarai oleh Silvester Hurit.

“Sebuah kata tak bermakna. Hidup kian jauh dari makna. Ketidakbermaknaan mulai berurat akar di kehidupan pribadi, berkeluarga, bertetangga, beragama, berpemerintah, berpolitik dan berkebudayaan. Pentas OMBA-dah dalam rangkaian kegiatan sosialisasi narkoba adalah ruang dimana kita mencubit diri sendiri. Seupaya kita bisa lebih melek dan bersungguh-sungguh menjaga hidup ini. Kehampaan makna hidup dan kekosongan ruang batin adalah lahan subur bagi lahirnya segala perilaku menyimpang termasuk narkoba,”demikian prolog yang dibacakan pembawa acara Sefi Belang.

Penampilan Zaeni Boli dan kawan - kawan mampu menggiring para penonton untuk menertawakan diri sendiri. Beberapa adegan sempat mengetuk kesadaran para penonton akan gaya hidup masa kini yang enteng melenceng dari kebermaknaan. Panggung taman kota malam itu, sungguh milik anak muda.

Siswa-siswi dari SMAK Frateran Podor, SMAK Darius, Seminari Hokeng, SMEA Lamaholot turut memeriahkan acara malam itu. Mereka menampilkan beberapa seni pertunjukan, paduan suara dan pembacaan puisi. Pernak-pernik yang dikenakan para pelakon turut menyulut mata para penonton. Lincah gerak ikut menerbitkan semangat dari binar wajah mereka. Lantang suara paduan suara yang disahuti genderang dan perkusi seolah menggeretak gerakan selamatkan anak muda Flotim dari bahaya penyalagunaan narkoba.Percakapan Obrolan Berakhir (Amber Kabelen- Pengurus Agupena Flotim)

Nara Teater Naik Panggung Malam Ini, Di Taman Kota (Menampilkan Teater Berjudul OMBA- dah)


Panggung Taman Kota Felix Fernandez malam ini, tepat pkl 20.00 Wita akan diisi dengan Pertunjukan Seni berjudul OMBA- dah oleh NARA Teater.

OMBA - dah menurut  Silvester Petara Hurit, Pendiri NARA Teater adalah, adalah kata tanpa makna. "Kata tanpa makna dipilih untuk menggambarkan realitas buruk dari kehidupan aktual kita hari ini yang lebih mengutamakan bentuk atau kemasan daripada isi, perayaan daripada penghayatan, status dari pada peran dan tanggungjawab, Riuh lebih menggoda daripada hening. Permukaan dan sensasi lebih diutamakan daripada substansi atau kedalaman,"kata Silvester.


Kritikus Seni ini menilai, hidup hari ini kian jauh dari makna. Ketidakbermaknaan mulai berurat akar di kehidupan pribadi, berkeluarga, bertetangga, beragama, berpemerintah, berpolitik dan berkebudayaan. "Pentas OMBA- dah dalam rangkaian kegiatan sosialisasi narkoba adalah ruang dimana kita mencubit diri sendiri.Supaya kita bisa lebih melek dan bersunguh- sunguh menjaga hidup ini. Kehampaan makna hidup dan kekosongan ruang batin adalah lahan subur bagi lahirnya segala prilaku menyimpang termasuk narkoba,"kata Staf di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Flotim ini.

Nara Teater yang didirikan pada tanggal 3 Juni 2016 oleh Silvester Hurit bertujuan untuk mewadahi dan merangsang gairah berteater di Flores Timur."Saya berinisiatif mendirikan Nara Teater bertujuan untuk mewadahi dan merangsang gairah berteater di Flores Timur,'ungkap Sil


Sejak didirikan, Nara Teater pernah diundang membawahkan karya Ina Benga pada Festival Teater Cirebon April 2017. Nara Teater juga merupakan salah satu dari 16 kelompok yang dipilih oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Dirjen Pengembangan Perfilman dan Kesenian Kemendikbud untuk Kegiatan Temu Teater Indonesia Tahun 2018 yang akan datang.(Maksimus Masan Kian)



Sabtu, 14 Oktober 2017

Membaca Buku, Menulis Buku Hingga Bedah Buku (Sebuah Catatan Menjelang Bedah Tapak Tuah)

Menjadi seorang penulis tentu tidak serta-merta. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Seorang yang memiliki kemampuan menulis sudah barang tentu ia rajin membaca. Kebiasaan membaca meningkatkan kepekaan dalam menganalisa sesuatu. Kebiasaan membaca terutama membaca kritis akan berdampak pada kemampuan menulis. 

Menulis merupakan sebuah kegiatan yang harus terus diasah. Menulis merupakan sebuah kegiatan intelektualitas yang sangat bermanfaat. Dengan menulis kita bisa menuangkan ide dan isi pikiran kita terhadap sesuatu. Sehingga dapat dikatakan sebuah karya dalam bentuk tulisan merupakan perwakilan dari olah pikiran sang penulis. Dengan menuliskan ide atau pemikiran yang kita miliki, maka ide tersebut tidak mudah hilang begitu saya. Tulisan inilah yang akan menjadi pengingat dari ide cemerlang tersebut. Apalagi jika ide yang kita miliki tersebut sangat berguna bagi perkembangan zaman atau hajat hidup orang banyak. Pasti kita bangga dengan tulisan hasil karya kita tersebut.

Banyak ide yang brilian dari banyak orang cerdas yang terbuang begitu saja. Lantaran hal ini maka penulis pun mencoba mendokumentasikan beberapa tulisan dalam bentuk buku. Karena bagi penulis sayang jika ide-ide yang mungkin sederhana ini hilang begitu saja. 

Sebuah tulisan sebagai karya cemerlang sang penulis, hendaklah dipublikasikan. Sehingga akan terjadi transfer keilmuan, wawasan dan pengetahuan bagi pembacanya. Sehingga apa yang kita pikirkan itu bisa diketahui oleh khalayak. Wadah untuk mempublikasikannya juga beragam. Mulai dari hal sederhana seperti mading di sekolah, papan informasi sampai pada yang lebih canggih yakni melalui fasilitas blogging dan media sosial lainnya. Seperti halnya yang sama-sama kita lakukan di facebook ini.

Dahulu ketika membaca tulisan orang lain, penulis merasa bahwa mengumpulkan tulisan hingga menerbitkannya dalam bentuk buku merupakan suatu hal yang sangat sulit. Dan itu penulis buktikan ketika berusaha untuk menghadirkan tulisan dalam bentuk buku yang berjudul “Tapak Tuah” ke hadapan pembaca. Dan ini merupakan buku pertama bagi penulis. Namun ketika kita memiliki kemauan yang kuat maka segalanya menjadi mudah. Dan lagi-lagi hal itu penulis buktikan dengan hadirnya buku pertama ini.

Jujur menerbitkan buku bukalah perkara gampang namun juga bukanlah hal yang sulit. Namun untuk menerbitkan sebuah buku banyak hal yang harus diperhatikan agar nantinya buku tersebut bisa dikatakan sempurna. Jika buku yang kita terbitkan itu sangat baik tentu akan mengundang banyak pembaca yang ingin tahu apa isinya. Secara otomatis tentu akan memberi keuntungan bagi penulis itu sendiri.

Satu lagi yang tak kalah pentingnya yakni melakukan bedah buku. Hal ini bertujuan untuk mengetahui dan menakar kemampuan seorang penulis tentang tulisannya. Seorang penulis yang berani mengadakan bedah buku terhadap bukunya, maka penulis tersebut memilih langkah awal untuk maju. Bedah buku adalah sebuah pembelajaran berharga bagi penulis. Karena selain pujian tentu juga akan diperoleh kritik-kritik pedas terhadap buku kita. Tentu sebagai penulis yang dibedah bukunya penulis harus siap. 

Tentang hal ini sebagai penulis pemula tentu saya belum memiliki pengalaman yang mumpuni terkait hal ini. Sebelumnya saya hanya mengikuti kegiatan bedah buku sebanyak dua kali. (Asy’ari Hidayah Hanafi- Pengurus Agupena Flotim)


Agus Boli: Karya dan Kreasi Orang Muda Flotim Patut diapresiasi (Siap hadir melaunching Buku Antalogi Puisi “Tapak Tuah”)

Karya dan kreasi Anak Muda Flores Timur (Flotim) patut diapresiasi. Dalam keterbatasan fasilitas, semangat untuk bergerak maju terus ditunjukan. Bicara potensi menulis, sesunggunya Flores Timur gudangnya. Selain gen, alam  Flotim yang indah, secara alamiah membentuk anak – anak Flotim menjadi penulis. Demikian pernyataan Agustinus Payong Boli, Wakil Bupati Flores Timur saat dikonfirmasi untuk hadir melaunching Buku Antalogi Puisi “Tapak Tuah”, Sabtu (14/7/17)
            Agus Boli menyampaikan apresiasi kepada tiga pengajar muda Muhammad Soleh Kadir, Asy’ari Hidayah Hanafi dan Benediktus Bereng Lanan, yang mampu menghasilkan karya dalam bentuk buku. “Banyak yang berwacana namun sedikit yang memberi bukti. Untuk ketiga penulis, tentu karya yang dihasilkan ini bermula dari wacana, melewati proses yang tidak gampang dan kemudian hari ini bisa memanen karya dalam bentuk buku. Mungkin menurut sebagian orang ini adalah hasil kecil, belum berarti untuk kemajuan sebuah daerah, namun bagi kami, kalian telah mengarahkan pikiran –pikiran positif pada media yang tepat, selain menunjukan profesionalisme sebagai guru yang salah satu indikatornya bisa menulis.Profisiat dan teruslah berkarya.Kami berharap, jejak kalian dapat diikuti oleh generasi berikutnya, termasuk orang muda Flotim lainnya. Banyak ide dan gasagan  orang muda Flotim dapat kita baca di media sosial, baiklah kalau dibukukan,  untuk memberi manfaat lebih luas,’kata Agus Boli.

            Buku Antalogi Puisi “Tapak Tuah” akan dilaunching dan dibedah pada Selasa (17/10/17) padi di Aula MTs Negeri Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, Flotim. Pelaunching buku karya tiga pengajar muda ini dilakukan oleh Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli.
            Hadir sebagai pembedah, Silvester Petara Hurit (Kritikus Seni Nasional), Bernadus Beda Keda (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olaraga Flotim), Pater Hendrik Kerans (Pimpinan Penerbit Nusa Indah Ende) dan Maksimus Masan Kian (Ketua Agupena Flotim).

            Muhammad Soleh Kadir, salah satu penulis Buku Antalogi Puisi “Tapak Tuah” mengatakan, acara launching dan bedah sesungguhnya bukan sekedar kegiatan seremonial atau aksi tanpa hasil. Namun, menurut Pion, sapaan Muhammad Soleh Kadir, acara ini adalah bagian dari upaya membangun iklim ilmiah di Flotim. Yah..iklim literasu, dengan menjadikan kegiatan membaca, menulis dan berdiskusi sebagai fondasinya,’kata Pion.
            Lanjut Pion, kegiatan launching dan bedah buku memiliki daya dorong yang kuat demi terbentuknya Flotim menjadi Kabupaten Literasi. “Literasi ini memang mimpi besar kita. Sebab, Kabupaten Literasi akan melahirkan orang- orang intelek yang berintegritas, cakap, dan berkepribadian,’katanya. (Maksimus Masan Kian)