Minggu, 10 Juni 2018

Dulunya Ia Seorang "Jupen" Kini Jadi Kepala Desa (Inspirasi Anak Kampung)


Bertemu dan ngobrol lama dengan beliau, terakhir di tahun 2017. Saat itu ia berkunjung ke rumah kami membawa konsep Visi dan Misinya untuk siap mengikuti Suksesi Pemilihan Kepala Desa (Kades) Tuwagoetobi Kecamatan Witihama. Slogan menjadikan Masyarakat Tuwagoetobi yang "Mamase" (Maju Mandiri dan Sejahtera) sebagai visi unggulnya yang kami diskusikan setahun silam, telah menghatarnya lolos dalam mengambil peran "gelekat" pengabdian, pelayanan di Kampung halamannya sendiri, Honihama. Sebagai Kepala Desa.

Padat aktivitas pelayanannya di tengah masyarakat Desa Tuwagoetobi dan rutinitas agenda pembangunan, membuat kami yang dulunya sering ngopi bersama dan berbagi cerita perlahan hilang. Suasana kebersamaan di Kota Larantuka, layaknya bapak dan anak tak terasa lagi. Sejak resmi dilantik menjadi Kepala Desa, bersama keluarga, mereka kembali ke kampung halaman dan menetap di sana.

Baru malam tadi, Rabu (6/6/18), di luar rencana dan tidak diduga sebelumya, kami bertemu di Kota Larantuka. Banyak cerita dan shering pengalaman secara bergantian kami luapkan. Walau terpaut usia cukup jauh, kami sangat akrab. Hal ini bisa terjadi, karena sejak kami bersekolah di SMA Negeri 1 Larantuka (2005), figurnya sudah menjadi teladan untuk kami. Ia mampu bergaul dengan semua kalangan. Baik yang tua, maupun muda. Ada rasa bangga, karena sejak SMA, ia bersedia berdiskusi dengan kami. Banyak informasi dan pengalaman ia bagikan. Rumusnya adalah rajin rajinlah bertanya.

Sebelum berkenalan dan akhirnya akrab seperti hari ini, kami sangat segan dengan beliau. Mengapa? karena, dialah satu satunya, orang yang mengendarai sepeda motor kala itu masuk di kampung kami. Biasanya ia ke kampung jelang liburan. Mendengar bunyi motor memasuki gerbang kampung, anak anak generasi seangakatan saya sudah bersiap siap dan mengejar motor dari belakang sambil lomba, siapa yang paling banyak menyentuh motor. Konsekwensinya, wajah kami tertutup asap knalpot. Kami bersyukur, lewat beliaulah, kami bisa mengenal dan menyentuh sepeda motor.

Kalau sebut nama lengkapnya, banyak pasti tidak kenal. Namun jika menyebutnya dengan "Jupen" pasti banyak yang kenal. Jupen yang artinya Juru Penerangan. Anak kampung yang tidak punya cita cita, namun semangat kerjanya yang luar biasa mampu menghantarnya bekerja di Jawatan Penerangan Flores Timur, menjadi seorang Jupen, hingga dinobatkan menjadi jupen teladan tingkat Propinsi NTT.

Yohanes Kopong Lamatokan, nama lengkap yang kurang familiar dibandingkan dengan sapaan Jupen. Ia lahir di sebuah dusun kecil, Dusun Lewoblolo di Desa Tuwagoetobi, persis di kaki Gunung Ile Boleng, tepat pada tanggal 15 Mei 1955. Ia adalah putra sulung dari 5 bersaudara, anak dari Bapak Petrus Tuan Laot (Alm) dan Mama Marta Tuto Wara (Alm). Di usia satu tahun, ia tinggal sendiri bersama mamanya. Bapanya memilih mencari nafka di tanah rantau, Sabah Malaysia. Masa kecil dengan mama sendiri, tentu tidak sebahagia teman teman lain, yang lengkap bersama bapa dan mamanya. Ini dirasakan oleh Ama Kopong Kolot, sapaan Yohanes Kopong Lamatokan, waktu kecil di kampung halamannya. Lewat Frans Ola Rugi (Alm) Saudara kandung dari mamanya, ia mendapat perhatian dan perlindungan, layaknya seorang bapa kandung.

Ayahnya Petrus Tuan Laot, baru kembali ke Kampung dan menemuinya bersama mamanya di saat ia sudah berusia 8 tahun dan saatnya memasuki Sekolah Dasar di Honihama yang waktu itu masih disebut dengan Sekolah Rakyat atau SR. Bangunan sekolah mereka saat itu dindingnya dari daun kelapa, sebelumnya memang ada bangunan permanen, namun terbakar dan tidak bisa digunakan lagi. Pakian yang mereka kenakan ke sekolah disebut "kenodot" celana yang terbuat dari sarung asli Adonara. Tidak ada baju. Hanya mengenakan celana. Kaki kosong. Tidak ada buku, bolpoint tidak ada, apalagi tas. Aset mereka waktu sekolah adalah "grepe" atau batu tulis. Melalui media itu, mereka dapat menulis dan merekam semua ilmu yang diajarkan oleh guru. Mulai dari pengenalan abjad, berhitung, ilmu bumi, ilmu hewan, tumbuhan dan lain lain. Tempat duduk mereka terbuat dari belahan kayu yang dibuat memanjang. Namun semangat mereka luar biasa untuk ke sekolah.

"Saya masih ingat, Kepala Sekolah kami saat itu adalah Pa Mikhael Medhon. Setiap kelas ada guru kelas masing masing. Postur kami besar besar, karena usia masuk sekolah dasar tidak dibatasi. Siapa yang mau sekolah, bisa masuk saja kalau tangganya sudah bisa melintang di atas kepala dan menyentuh telinga. Itu adalah salah satu syarat dasar masuk SD. Di SD kelas I, kami sudah masuk dalam kelompok tani tingkat sekolah dan wajib membersihkan kebun guru setiap sore pulang sekolah. Tidak ada alasan untuk tidak kerja. Wajib hukumnya,"kata Jhon.

Selang beberapa tahun, sebelum angkatan mereka tamat, Mikhael Medhon kepala sekolah mereka diganti oleh Benediktus Boro Tura, putra Honihama, yang juga sebagai guru pertama dari rahim Honihama. Hingga tamat mereka dibawah kepemimpinan Kasek Benediktus Boro. Sebelum akhirnya tamat di bangku SD, mereka harus melewati ujian akhir yang dikenal dengan ujian tes. Di sini, tidak semua wajib lulus. Angkatan mereka tamat, tepatnya di tahun 1969.

Tamat SD, tidak ada pikiran untuk melanjutkan ke SMP. Ini disebabkan jarak tempat tinggal dengan sekolah yang jauh, kesulitan secara ekonomi, juga kesadaran akan pentingnya pendidikan yang masih kurang. Pa Jhon sendiri, memilih membuka kebun, bergabung dengan kelompok tani di kampung dan menjadi petani muda selama 3 tahun terhitung sejak 1969-1972.

10 April 1972, Jhon merantau ke Larantuka. Keluar dari Kampung Honihama dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 20km untuk bisa tiba di Waiwerang. Satu malam menginap di Waiwerang, sebelum besoknya ke Larantuka naik kapal motor. Di Larantuka, ia tinggal dengan Stefanus Sira Boli, seorang pensiunan tentara Belanda yang dikenal dengan KNIL yang merupakan bagian dari keluarganya.

Pekerjaan yang dilakukan setiap hari layaknya seorang pembantu rumah tangga. Sejak pagi, ia sudah melaksanakan tugas tugas rumah seperti menyapuh halaman, mencuci piring, memberi makanan ternak, dan lain lain. Ia lakukan dengan senang hati. Tidak ada pikiran untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Mereka bertetangga dengan orang Honihama lainnya yaitu Bapa Arnoldus Ara Kian, seorang Pensiunan Pegawai di Jawatan Sosial. Di rumah Arnoldus Ara Kian ada Wilhelmus Wayong Sodi. Lewat Wayong Sodilah, Jhon Kopong mendapat cerita dan gambaran kerja di Jawatan Sosial dan Jawatan penerangan. Wayong sendiri waktu itu sudah bekerja di Jawatan Sosial.

Selain bertetangga dengan Arnoldus Ara Kian, tetangga lain yang juga berasal dari Adonara adalah, Bapa Boleng. Ia merupakan Kepala Bagian Tata Usaha Jawatan Penerangan. Pria asal Lewopao, Adonara ini, melihat keseharian Jhon Kopong yang rajin, ia lalu menawarkan Jhon untuk bekerja di Jawatan Penerangan. "Bapa Boleng, ajak saya waktu itu bilang begini "Selama ini, saya amati, kamu adalah anak yang rajin. Kalau mau, ikut saya kerja di Kantor Jawatan Penerangan". Mendengar ajakan ini, rasanya mustahil, karena selain hanya tamat SR, pengalaman kerja di kantor tidak ada. Perasaan saya tidak mungkin tapi faktanya benar! Di hari Senin, tanggal 1 Juni 1972, saya diterima bekerja di Kantor Jawatan Penerangan yang waktu itu Kantornya di Lokea, sekarang Asrama Tentara. Ke kantor di tahun itu, saya masih kenakan celana pendek. Pagi pagi saya adalah orang pertama yang datang di kantor. Tugas yang saya jalankan adalah, membuka pintu, sapuh, mengatur tata letak meja dan kursi, lap kaca, tempel surat, menghatar surat di kantor pos, menjemput surat dan lain lain. Ke kantor dan menjalankan tugas lain di kantor dengan berjalan kaki, belum ada bemo di Larantuka," tutur Jhon.

Dua tahun bekerja di Kantor Jawatan Penerangan, atas informasi dan masukan teman teman di Kantor, Jhon Kopong akhirnya mendaftar dan masuk sekolah di Kursus Pegawai Administrasi (KPA). Ini setara dengan SMP. Pagi bekerja di kantor, sorenya sekolah di KPA. Di KPA, mereka diajarkan tentang manajemen, cara berkomunikasi, aljabar, berhitung dan mengetik 10 jari di mesin ketik. Gedung yang mereka gunakan adalah gedung SMP Rayuan Kelapa, yang melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar pada pagi hari.

Tamat di KPA, Jhon melanjutkan sekolah ke Kursus Pegawai Administrasi Atas (KPAA) setara dengan SMA. Masuk 1977 dan tamat tahun 1979. Sejak itu, ia sudah mendapat kepercayaan dan tugas tugas keluar bertemu dengan masyarakat, mensosialisasikan aturan baru, program baru dan lain lain. "Pimpinan melihat saya punya kemampuan dan saya mendapat kesempatan ke desa desa melakukan sosialisasi aturan baru, program kerja, juga pembangunan apa yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah. Ke kampung, bukan tangan kosong dan sekedar berbicara. Kami membawa layar lebar, kaset VCD, dan proyektor dan memberikan penjelasan serta sosialisasi banyak hal tentang pembangunan.Kami menerangkan aturan aturan baru, perkembangan di bidang kesehatan, pertanian, perekonomian, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, sosialisasi tentang Undang Undang dan Pancasila sebagai dasar negara dan lain lain. Hampir semua bidang kami terangkan. Untuk membuat masyarakat bisa datang dan berkumpul juga tidak jenuh mendengarkan penjelasan, kami selingi dengan membuka film perjuangan, motivasi hidup, sinetron juga program program pembangunan pemerintah melalui layar lebar. Bahan yang kami tayangkan, biasanya dikirim dari Jawatan Penerangan Propinsi. Sebelum ke kampung - kampung, kami tayangkan dulu di wilayah Larantuka, di perkampungan yang mengelilingi Ile Mandiri hingga menjangkau semua desa di Kabupaten Flores Timur. Jadi, kerja kami seperti humasnya pemerintah, tapi langsung turun ke lapangan, bertemu dengan masyarakat. Kami bermalam. Misalnya kami sedang di Desa A dan besoknya ke desa B, kami dijemput oleh warga desa B, yang akan membawa semua peralatan. Mereka sangat antusias. Terlebih karena mereka akan menyaksikan langsung layar lebar, "kisah Jhon.

Selain melakukan sosialisasi dan menerangkan banyak hal di masyarakat, mereka juga memberikan sumbangan Radio dan Televisi (TV, Hitam Putih) untuk warga, dalam gerakan Radio Masuk Desa dan TV Masuk Desa. "Ada syarat jika masyarakat mau menerima bantuan berupa Radio dan TV. Masyarakat yang mau dapat sumbangan radio wajib memiliki Kelompok Pendengar Siaran Pedesaan (Kelompesipedes) di desa. Sementara warga yang mau dapat TV harus memiliki Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (Kelompengcapir). Dengan syarat itu, dibentuklah Kelompesipedes dan Kelompengcapir di desa desa. Bahkan kelompok kelompok itu masih bertahan hingga sekarang. Kita berusaha untuk informasi sekecil kecilnya diketahui oleh masyarakat. Kita betul betul transparan membagikan semua informasi. Dengan hadiah radio dan TV masyarakat bisa mengikuti informasi. Pengalaman menghantar TV di desa desa, kita disambut layaknya seorang Bupati atau Wakil Bupati yang datang di sebuah desa. Warga beramai ramai membangun gapura menuliskan Selamat Datang TV. Kami disambut dengan tarian, dan dirayakan hingga berhari - hari. Penyambutan kehadiran TV di kampung kampung saat itu, seperti penyambutan pahlawan yang baru pulang perang. Warga begitu antusias. Dan kami waktu sangat terkenal. Jupen...jupen...adalah sapaan sayang dari warga untuk kami. Mereka tidak pernah memanggil nama kami yang asli. Sapaan mereka tidak lain tidak bukan yakni, Jupen!

Selain melakukan sosialisasi, memberikan sumbangan radio dan televisi, kami juga menggagas pembentukan organisasi kepemudaan, melatih teater, tarian tarian adat Lamaholot,"kata Jhon.
Maret 1982 Jhon diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) selanjutnya di tahun 1988, ditempatkan sebagai Kepala Kantor atau Juru Penerangan di Kecamatan Wulanggitang selama kurang lebih 15 tahun. Di Boru, Jhon dikenal sebagai Jupen yang mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, cerdas dan berani. Seperti di tingkat Kabupaten, di Boru bersama warga melakukan banyak hal. Keliling dari satu kampung ke kampung yang lain, membangkitkan semangat warga untuk memanfaatkan lahan kosong, memotivasi mereka untuk membangun melalui pemutaran film inspiratif dan lain lain. "Di masyarakat, kita diterima dan sangat dihormati karena mereka merasa, apa yang mereka butuhkan dapat kita penuhi. Kami ke kampung kampung membawa kelengkapan. Di sepeda motor yang kami kendarai sudah terpasang mikrofon dan megafon. Megafon terpasang langsung dimotor dan mikrofon kami gantung di leher. Setiap hari kami keliling dari kampung ke kampung. Misalnya ada satu gejala penyakit yang menyerang warga, walau bukan orang kesehatan, kami sudah dikapasitasi untuk mampu menjelaskan.Kami punya ilmu tentang hal itu. Saya rasakan betul, layanan informasi itu, sangat penting untuk warga, "ungkap Jhon.

Tulus bekerja dan ikhlas berbagi, Jhon banyak mendapat kesempatan mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan pada bidang penerangan. Pelatihan yang mereka ikuti mulai di Maumere, Ende dan Kupang. Hingga pada tahun 1992, di Ajang Pemilihan Jupen Teladan tingkat NTT, Jhon Kopong terpilih sebagai Juara I Jupen teladan. Ia kemudian mewakili NTT, mengikuti Kegiatan Jambore Penerangan Nasional di Lampung.

Dengan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki, ia mengisi waktu liburannya dengan membangun motivasi anak anak muda di Honihama Desa Tuwagoetobi dan mefasilitasi pembentukan beberapa organisasi pemuda di kampung, salah satunya Karya Baru Lewoblolon yang akan merayakan ulang tahunnya ke 38 pada 17 Juli 2018 mendatang. Kegiatan di organisasi ini adalah, selain usaha dana, juga kegiatan kegiatan olahraga seperti bola kaki, bola volly, fotsal dan lain lain. Di bidang kerajinan tangan, anggota karya baru saat ini mampu menghasilkan berbagai anyaman dari bahan bahan lokal, juga memanfaatkan sampah sampah anorganik untuk menghasilkan karya yang unik dan menarik. Melalui kelompok muda ini pula, menjembatani kreasi kreasi anak muda diantaranya bermain musik dan berteater. Berkat jaringannya pula, Bapa Jhon untuk pertama kalinya mendatangkan radio dan televisi di Honihama lewat program Radio Masuk Desa dan TV masuk desa, program milik Jawatan Penerangan Flores Timur.

Tahun 2001, masa Kepemimpinan Presiden Gusdur, Jawatan Penerangan dibubarkan. Bapa Jhon dimutasi ke Infokom, selanjutnya ke Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Daerah. 2010 dimutasi ke Dinas Perhubungan dan Pariwisata, hingga pensiun tahun 2011 di Kantor Kelurahan Lohayong, Flores Timur. Walau sudah pensiun, jasanya masih dimanfaatkan oleh Kantor Imigram Maumere, melakukan sosialisasi dan penjelasan tentang bagaimana merantau sesuai dengan aturan sehingga tidak dianggap sebagai imigran gelap.

Sejak pensiun di tahun 2011, ia menggagas terbentuknya Kelompok Tani 279 Weri di Kelurahan Weri dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sadar Tani. 2017, maju dan bertarung pada Pemilihan Kepala Desa Tuwagoetobi, Kecamatan Witihama. Berkompetisi dengan 6 pasang calon lainnya. Dikompetisi ini, ia keluar sebagai pemenang, dan kemudian saat ini memberi diri sebagai pelayanan bagi Warga Honihama Desa Tuwagoetobi.

Lewat Visi Mamase( Maju Mandiri Sehjatera) saat ini di Desa Tuwagoetobi sedang giat membangun rabat jalan, membuka lorong lorong, jalan usaha tani, sambil merampungkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMD) untuk siap menitik beratkan pembangunan yang dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) warga yang diyakini sebagai modal kuat pembangunan desa ke depannya.

Di hadapan beliau (Kepala Desa) kami memberi satu tawaran untuk bagaimana, anggaran desa dapat diplotkan untuk menghotmiks ruas jalan utama di dalam Desa. Tawaran ini, ia setujui karena menurutnya sudah ada wacana tentang hal ini. Apalagi kondisi seminisasi ditahun 2018, kerusakannya sudah sangat parah. Malam itu juga, saya menghubungi Manager General, Bumi Indah, Stephanus Ola Demon yang saat itu berada di Kupang dan beliau menyanggupi untuk siap bertemu dengan Kepala Desa dan warga melakukan sosialisasi untuk selanjutnya dilakukan pembangunan.
Jhon Kopong selain dikenal sebagai Jupen, Ia juga jago dalam penuturan bahasa adat Lamaholot. Dia salah satu dikenal memiliki kumpulan lagu daerah yang ia nyanyikan mengiringi sendiri dengan gambus buatannya. Kumpulan lagu yang direkam di kaset dijual di Toko toko di Larantuka saat itu. Hingga saat ini, beberapa kaset kumpulan lagunya, masih ia simpan di rumahnya.

Berkat perjuangannya, Jhon Kopong berhasil menyekolahkan 2 anaknya menjadi sarjana. Dan yang lain sementara menyelesaikan studi sarjana. Mereka diantaranya, Marselina Lamatokan, Tamat 2011 di Universitas Akademi Putra Indonesia Malang, Jurusan Farmasi, sekarang bekerja di Apotik Pb.Farma Larantuka. Berikutnya, Kresensius Lamatokan, Tamat Undana Kupang (2015) Jurusan Ilmu Komputer. Saat ini bekerja di Kantor Koperasi dan UKM Kabupaten Flores Timur, dan Simon Petrus Bungalolon, saat ini sementara memyelesaikan Studi Sarjana di Undana Kupang, Fakultas Sains dan Teknik, Jurusan Ilmu Komputer.

Kisah perjuangan dan kerja Jhon Kopong, atau populernya Jupen, didukung oleh Petronela Bengan Dorok (istri) dan kelima anaknya. Kisah anak kampung yang hanya bermodalkan ijazah SR, bisa dipercayahkan untuk melakukan hal besar karena kemampuan, keterampilan dan keneranian yang dimiliki.*(Maksimus Masan Kian)

Perjuangan Seorang Stephanus Ola Hingga Mencicipi Kesuksesan

Hari hari ini, nama Stephanus Ola Demon,ST ramai diperbincangkan di tengah masyarakat Adonara khususnya dan Flores Timur pada umumnya. Putra Lamanele, Ile Boleng Adonara yang lahir di Sandakan 9 September 1974 ini dikenal karena jasanya menghadirkan PT. Bumi Indah di Pulau Adonara Tanah Lamaholot, yang berperan besar dalam perbaikan jalan (hotmiks) di sekian titik jalan di Adonara, Solor, dan Flores Daratan yang sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah.

Saya sendiri mengenal Stefanus Ola, untuk pertama kalinya tahun 2017, di Desa Lamahelan saat saya membawahkan materi tentang Jurnalistik untuk pelajar se Kecamatan Ile Boleng yang diselenggarakan Angkatan Muda Adonara (AMA) Kupang. Beliau kala itu hadir bersama rombongan Wakil Bupati Flores Timur, dan Camat Ile Boleng yang akan meresmikan Pondok Baca Lamahelan.

Kami bertemu untuk kedua kalinya, Jumat (25/5/18) di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Saya baru saja tiba, setelah mengakhiri Kegiatan Seminar Nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional, sementara beliau baru saja mengahadiri Kegiatan Tenaga Ahli dan Keterampilan (Takonas) dalam kapasitas sebagai Ketua DPD Takonas NTT, periode 2017- 2022. 

Dalam obrolan kami kurang lebih 2 jam menunggu penerbangan Jakarta- Surabaya - Kupang, ada banyak nilai perjuangan yang kami petik. Jika hari ini, ia boleh berjaya mencicipi hasil kerjanya, itu karena perjuangannya yang berdarah darah di masa yang lalu. Segala kepahitan, sakit dan kesulitan dalam hidup telah dirasakan hingga kemudian menghantar masa bahagiannya kini.

Stef Ola, dilahirkan di Sandakan Malaysia dari rahim Ruth Sanfa (72) dan Bapa Bernadus Lewun Duhan (74). Anak ke 2 dari 4 bersaudara. Memasuki usia 5 tahun, ia dihantar ke kampung Lamanele, dan di asuh oleh keluarga dari Bapanya. Alasan menghantarnya kembali ke kampung saat itu karena Bapa dan Mamanya sibuk kerja di Malaysia. Ia tumbuh tanpa mendapatkan didikan secara langsung dari orang tuannya. Untuk kondisi ini, bagi Stef adalah ujian dan terus memampuhkan dia untuk bisa mandiri. Ditangan keluarga Bapanya di kampung halaman, ia mulai memasuki usia sekolah di SDK Pukaone, tamat 1988, SMP Swasta Ile Boleng, tamat 1991 hingga melanjutkan pendidikan SMA di SMA Kristen 1 Kupang, tamat 1994. Ada niatnya saat itu untuk masuk ke Seminari Hokeng dengan cita cita menjadi seorang Imam, namun niat ini gagal, karena proses pengurusan surat permandian dipersulit dengan alasan,bapa dan mamanya berada di Malaysia.

Masa masa sulit saat menempuh pendidikan SMA di Kupang menjadi catatan perjuangan yang menantang. Ia bahkan pernah lari dari rumah keluarganya dan engan untuk sekolah lagi. Beras tidak ada, makan tanpa lauk, tidak mendapatkan kiriman uang dari orang tua, ke sekolah dengan berjalan kaki, jadwal Feri yang tidak tentu yang menyulitkan pengiriman bekal makanan dari kampung, adalah warna warni sulitnya perjuangan hidup mereka saat itu. Bahkan pada suatu waktu, hingga 3 hari lamanya, mereka hanya bertahan dengan makan buah dan daun pepaya.

Kerasnya ini hidup membuatnya belajar sungguh dan rajin mengerjakan pekerjaan apa saja yang dipercayakan. Pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki bagi Stef adalah hal yang sudah biasa dan harus dijalankan dengan senang hati. Pada suatu waktu, Ia mendapat tantangan dari seorang senior namanya Yos Lega (almahrum). Yos Lega saat itu menjadi anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang. Ia menantang Stef Ola untuk maju menjadi Ketua OSIS di SMA Kristen 1 Kupang. "Kalau engko hebat, saya mau lihat, bisa menang tidak menjadi Ketua OSIS di SMA Kristen 1 Kupang dengan posisi engko sendiri berhadapan dengan mereka yang mayoritas" ungkap Stef Ola meniru kata kata Yos Lega saat itu. Stef Ola merasa tertantang dan ingin membuktikan bahwa ia bisa menjawabi tantangan itu. Dan hasil perjuangan kerasnya, ia terpilih menjadi Ketua OSIS SMA Kristen 1 Kupang di tahun 1993.

Masa Setelah SMA
 
Setelah tamat SMA, Stef Ola sudah punya niat untuk kuliah, namun terkendala biaya. Orang tuannya pada saat itu, belum menyanggupi keinginannya, karena beban biaya tidak untuk dia sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak orang tuannya ke Malaysia, tepatnya di tahun 1994.

Di Malaysia, Stef Ola bekerja di Supermarket selama enam (6) bulan. Namun di tempat ini, tidak membuat ia betah karena gaji yang diterima tidaklah seberapa. Oleh keluarga dan rekan rekannya, menganjurkan untuk bekerja di bagian perhitungan dan penomoran kayu balak, yang lokasi kerjanya di hutan. Sesekali baru mereka turun ke kota. Itupun sekedar membeli makanan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari -hari. Stef kemudian bekerja di tempat itu. Dengan sedikit uang yang terkumpul, ditambah pemberian dari orang tua, tahun 1995 ia memilih pulang untuk kuliah. Di tahun itu, Stef menjadi salah satu peserta dari ribuan peserta yang lolos seleksi tes masuk Perguruan Tinggi melalui seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Pilihan jurusanya adalah pertanian, dan lulus di Universitas Patimura Ambon. Kabar baik ini, mendadak dengan pertimbangan pribadi ia batalkan. Menurut Stef, Ambon itu juga di wilayah timur sama dengan NTT, sehingga ia tidak mau kuliah di sana.

Pada kondisi itu, terlintas pikiran akan pekerjaan kontraktor, dimana Stef sendiri mempunyai kenangan tentang pekerjaan ini. Pada suatu waktu di saat masih kecil, ia sempat bertanya tentang hal ini. Pertanyaannya demikian, mereka yang kerja di bagian kontraktor itu gelarnya apa,...? Ia mendapat jawaban bahwa yang kerja di bagian kontraktor gelarnya insinyur. Kenangan itu masih ia ingat. Tentang insiyur adalah sebuah gelar yang oada saat itu, sangat disebut di kalangan masyarakat sebagai orang yang hebat di bidang pembangunan, termasuk mencontoh pada figur Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, Stef akhirnya memilih kuliah pada Fakuktas Teknik, di Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang. 

Tidak dihantar oleh siapa siapa, ia datang sendiri dan mendaftar di Unika. Di tahun itu, ia sudah memikirkan untuk memiliki aset sendiri. Dengan uang hasil tabungan gaji yang didapat saat bekerja di Malaysia, selain untuk biaya pendaftaran dan biaya lain lain di awal kuliah, Stef Ola menyisihkan sedikitnya uangnya untuk membeli tanah dan langsung membangun sebuah rumah darurat ukuran 4×6 di Kelurahan Oebufu. Memilih di Oebufu karena dengan hitungan rute kendaraan umum satu jalur menuju ke kampus Unika. Rumah yang ditempati ini, kemudian menjadi tempat tinggal bagi banyak mahasiswa dari Adonara yang kesulitan mendapatkan tempat tinggal.

Di kampus, ia berproses dengan baik. Rajin belajar dan aktif di kegiatan ekstra kampus. Hasil dari proses yang baik di kampus, tahun 1998, ia dipercayakan menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Sipil, dimana pada tahun yang sama, ia memimpin beberapa delegasi HMJ Teknik Sipil untuk mengikuti Kegiatan Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil di Palu. Sekembalinya dari Palu, Ia terpilih menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Teknik. 

Sejak menjadi mahasiswa, Stef Ola sudah dipercayakan menjadi asisten dosen. Dengan pengalaman ini, saat beliau menamatkan pendidikan sarjana( S1) di Unika Kupang, ia langsung diangkat menjadi dosen dengan sebutan dosen kontrak. Dosen Kontrak berlaku selama 5 tahun. Di Tahun 2006, ia diangkat menjadi dosen tetap. Sementara menjalankan tugas sebagai dosen, sejak 2005, ia sudah berpengalaman bergulat dalam dunia proyek dan beliau dikenal sangat jago pada bidang hitungan. Dengan kehebatannya ini di Kupang saat itu, ia sangat dikenal, termasuk orang orang di PT. Waskita Karya. 

Suatu waktu, ada komunikasi antara Pimpinan PT. Bumi Indah dan PT. Waskita Karya. PT. Bumi Indah, Pimpinan Melkianus Lubalu yang saat itu tinggal di Waetabula Pulau Sumba, sedang mencari seorang tenaga yang dapat membantu mengurus perusahannya. Waskita Karya, mendorong nama Stefanus Ola Demon untuk bisa berkomunikasi dengan Melkianus, Pimpinan Bumi Indah. Yang masih diingat Stef Ola adalah Ia ditelpon Pa Melkianus untuk bertemu di Rumah Makan Nelayan. "Saya waktu itu, sangat gugup ditelepon oleh seorang Pimpinan Bumi Indah. Terlebih lagi diminta untuk langsung ketemu di Rumah Makan Nelayan yang mana, selama ada di Kupang, saya belum pernah satu kalipun masuk di tempat itu. Dengan menumpangi angkutan kota saya beranjak menuju ke Rumah Makan Nelayan. Seingat saya, sendal yang saya gunakan waktu itu adalah sendal jepit biasa merek swalo. Saat tiba, saya melihat beberapa orang dengan setelan pakian cukup elit dan berwibawa. Dengan langkah malu malu sambil memperhatikan pakian yang saya kenakan waktu itu, akhirnya sampai juga dihadapan mereka. Mereka yang berada di hadapan saya saat itu adalah orang orang asing, karena sebelumnya saya tidak pernah ketemu. Mendengar nama juga tidak. Baru saja saya duduk, tanpa basa basih, Pimpinan Bumi Indah langsung mendaratkan pertanyaan yang bunyinya demikian "Kira kira bisa bantu saya, atur saya punya perusahan?" Saya kemudian menceritakan kepada Bapa Melkianus bahwa saya adalah seorang dosen. Sehingga harus punya waktu tetap mengajar di kampus. Saya membuat penawaran, jika Bapa Melkianus mau, saya akan membagi waktu dua minggu saya mengajar dan dua minggu saya bantu Bapa Melkianus. Mendengar jawaban itu, Ia melanjutkan pertanyaan, kamu mau saya gaji berapa...? Untuk pertayaan ini, saya jawab saya tidak butuh digaji. Hargai saya sepadan dengan apa yang saya kerjakan. Terjadi kesepakatan hari itu, dan saya siap bantu sama sama mengurus PT. Bumi Indah yang kala itu berlokasi di Sumba. 2 minggu saya mengajar, dan dua minggu saya bekerja di Bumi Indah, tutur Stef Ola.

Baru bekerja 3 hari, ia langsung diberi kesempatan pelatihan tenaga ahli tingkat nasional yang terjadi di Kupang.Kegiatan itu diselenggarakan oleh Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI). Peserta rata rata adalah magister magister teknik. Stef sendiri yang Sarjana. Diakhir kegiatan dilakukan post tes dan ia berhasil meraih juara I dengan nilai hasil tes tertinggi. Pa Ming, sapaan, Melkianus sangat senang mendengar kabar itu, dan Stef diberikan hadiah sebuah Motor baru Jupiter X. Sejak itu untuk pertama kalinya ia mengendarai sepeda motor. Sebuah kisah perjuangan yang luar biasa.

Lokasi kerja mereka saat itu lebih banyak di Pulau Sumba. Membangun jalan (hotmiks), membangun bandara, pelabuhan laut adalah pekerjaan sehari hari yang dilakukan oleh Stef bersama dengan teman temannya. Kepercayaan yang ia emban adalah, Kepala Proyek (General Superintenden). Ia dikenal sebagai pekerja keras yang jujur, dan bertangungjawab. Dalam hal penggunaan uang, setiap kali pembelajaaan, satu senpun ia kembalikan. Karakter ini yang membuat Stef Ola dikenal sebagai anak kesayangan dari Pa Melkianus Pimpinan Bumi Indah. Setiap idenya pasti dipertimbangkan dan diterima untuk dijalankan. Ia juga selalu mendapat kepercayaan untuk melakukan survei survei di daerah daerah baru yang akan dibangun kerja sama untuk pembangunan jalan, bandara atau pelabuhan laut di daerah. Tahun 2010, ia menyampaikan idenya berkaitan dengan sudah saatnya, PT. Bumi Indah ekspansif mengembangkan sayap pelayanan ke wilayah lain di NTT. Ide ini kemudian diterima, dan di tahun 2010, PT. Bumi Indah memenangkan tender pembangunan Pelabuhan Feri Adonara, diantara Desa Tuwagoetobi Kecamatan Witihama dan Desa Duabelolong, Deri Kecamatan Ile Boleng. Memenangkan tender untuk pembangunan di Pulau Adonara, bagi Stef adalah berkat, karena selama ini ia hanya mengabdi di tempat lain. "Mendapat proyek di Adonara, bagi saya adalah berkat. Bahwa selama ini saya hanya mengabdi di tanah orang, kali ini saya sunguh sunguh membangun untuk lewotana, kata Stef

Memang ada tantangan saat pertama ke Adonara dan akan memulai pengerjaan Pelabuhan Feri Adonara, namun atas ketulusan niat dalam membangun, jalan terbuka diperoleh dan pelabuhan feri dibangun tepat pada waktunya,dengan kualitas bangunan yang luar biasa. Untuk kualitas bangunan, Frans Lebu Raya, Gubernur NTT, juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih. Saat menyelesaikan pembangunan di Adonara, bersamaan juga pengembangan Bandara Frans Seda Maumere dan Pelabuhan Wuring.

Setelah Pembangunan Pelabuhan Feri Adonara, rahmat terus berdatangan. Ruas ruas jalan kabupaten, jalan propinsi strategis nasional yang dulunya rusak parah mualai dibangun dengan kualitas tinggi. Kemudahan pembangunan ini, berkat tersediannya semua fasilitas dan bahan bahan bangunan yang langsung ada di Pulau Adonara. Ruas ruas jalan yang dibangun saat ini, selain sekian titik lain yang juga sedang mengalami perbaikan diantaranya, jalan kabupaten (Baowutung Ile Boleng, Nihaone, Boleng, Meko, Bani, Simpang Karing ke Tapobali), Jalan Propinsi (Wailebe, Banione, Waiwerang) dan Jalan Strategis Nasional (Wailebe, Koli, Mangaale Waiwadan,Lagaloe) dan lain - lain di Pulau Solor dan Flores daratan. Rencana akan dihotmiks juga jalur jalan dari Waiwadan menuju ke Bukit Seburi.

Stef Ola, dalam pengakuannya senang dengan apresiasi yang selalu ia dapatkan dari masyarakat, kapan dan di manapun saat bertemu. Banyak warga juga tidak mengira, yang namanya Stef Ola orangnya seperti itu. "Saya dibanyak tempat ditegur, disapah dengan sangat akrab dan santun. Beberapa kali di acara penguburan orang mati, saya mendengar langsung nama saya diperbincangkan walau mereka belum mengenal saya. Mendengar ungkapan ungkapan polos dari mereka saya sangat senang dan puas. Bagi saya, itu adalah doa. Pernah saya mendengar ungkapan seperti ini "Ternyata hotmiks kami baru tahu ini" pernyataan ini lahir disaat mereka membandingkan pengerjaan hotmiks jalan yang dikerjakan sebelumnya dan yang kami Bumi Indah kerjakan, kata Stef.

Selain apresiasi, kritikan juga menjadi bagian dari konsekwensi kerja. Tidak sedikit, warga yang awam tentang pembangunan yang dilaksanakan kemudian membuat pernyataan pernyataan yang terkesan subyektif dan kabur. Misalnya soal lebarnya jalan, ketebalan hotmiks,sumber anggaran dan volume kerja serta banyak hal lainnya. Stef melakukan beberapa penjelasan diantaranya, Jika sumber dana APBN maka full desain dengan sistem 272. Artinya, aspal jalan 7 meter dan bahu jalan kiri 2 meter dan kanan 2 meter. Jika Sumber dananya adalah APBD I maka dibangun dengan sistem 1 4 1/2 1 atau aspal jalan 4 1/2 meter dan bahu jalan kiri 1 meter kanan 1 meter. Sedangkan kalau sumber dana APBD 11 maka menggunakan sistem 1 3 1/2 1. Jika menggunakan APBN 4-5 Miliar untuk mengerjakan hotmiks jalan sepanjang 1 km, sementara APBD 1 dan II, untuk pengerjaan jalan sejauh 1km membutuhkan biaya berkisar antara 2 -3 1/2 miliar. 

Ada satu prinsip yang selalu dipegang oleh Stef Ola dalam bekerja adalah, melakukan setiap pekerjaan dengan jujur. "Kita kerja lancar, habis tepat pada waktunya kalau kita kerja sesuai dengan Spek yang telah ditetapkan. Jangan berusaha untuk menekan biaya untuk kepentingan pribadi atau kelompok kelompok tertentu, itu hanya mempersulit diri sendiri. Yang kita kerjakan ini adalah fasilitas publik, untuk kepentingan publik. Kepentingan ribu ratu, maka mesti dikerjakan dengan sungguh sungguh, jujur dan bertangungjawab, "tegas Stef.

Pengabdiannya yang luar biasa untuk Lewotana patut diacungkan jempol. Karya besarnya di luar daerah, berani ia dorong untuk pembangunan di Adonara, pembangunan di Flores Timur.

Kerja kerasnya, kini Stef Ola diangkat menjadi General Manager. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Teknik di Universitas Atmajaya 2015 dan mendapat gelar Magister Teknik di tahun 2017. Di tengah kemajuan kerja bersama Bumi Indah, ia tetap setia menjadi dosen. Alasannya sederhana, sumber ilmu itu ada di lingkungan akademik yakni di universitas, karena itu, ia tetap memilih menjadi dosen.Selain itu, di ruang kuliah ia diperkaya dengan ide dan ilmu dari mahasiswanya sendiri. "Tetap menjadi dosen, mau memberi pesan bahwa pekerjaan dosen itu mulia, dan tamatan di Universitas lokal (Unika) bisa bersaing ke kanca nasional. Pembangunan pelabuhan feri di Adonara sampai selesai murni mengandalkan insiyur insiyur dari NTT. Kita juga bisa berkompetisi,"kata Stef.

Dibalik kesuksesannya, ia didukung oleh istrinya, Theresia Setya Ningrum (32) dan 3 (tiga) anaknya, Isidorus Witak (9), Stefani Witin (5) dan Gemaraina Witak (1). Kisah perjuangan hidup, dan pengalaman kerja dari Stefanus Ola Demon,seorang anak kampung dari Pulau Adonara ini bisa diteladani, menjadi motivasi dan inspirasi untuk generasi muda Flores Timur pada khusunya dan NTT pada umumnya.* (Maksimus Masan Kian)

Pemeran "Tonu Wujo" Itu Adalah Gadis Berdarah Sabu

Yunitha Devrudyan Doko, Pemeran "Tonu Wujo"
 
Pentas Teater "Tonu Wujo" beberapa hari yang lalu di Taman Kota Felix Fernandez yang diselenggarakan Fanfare St.Caecilia masih menyisahkan rasa penasaran sebagaian warga Flores Timur tentang siapa sosok pemeran "Tonu Wujo". 

Saya termasuk salah satu penonton yang dibuat sangat penasaran, sebab perannya sungguh menakjubkan. Karakter yang ia perankan sangat cocok dengan sosok "Tonu Wujo" sebenarnya. Ketegaran, cinta, kesabaran dan pengorbanan ia perankan dengan begitu apik. Kata kata, gerakan hingga nyanyian rakyat Lamaholot begitu fasih ia mainkan. Panggung malam itu sungguh menjadi miliknya. 

Salah satu keberuntungan saya malam itu yakni, menempati posisi duduk paling depan. Ini saya manfaatkan untuk memotret dan mengambil dokumentasi dalam bentuk vedio pada adegan adegan yang bagi saya menarik sebanyak banyaknya. Foto foto dan video itu, kemudian saya posting di media sosial, Facebook.

Lewat postingan di Medsos itulah, alam raya mempertemukan saya dengan pemeran "Tonu Wujo" pada Senin 4 Juni 2018 di Duta Cafe Larantuka. 3 hari setelah pentas diadahkan. Kami merencanakan pertemuan itu. Ia akan mendapatkan foto jepretan saya, dan sebaliknya saya akan mengupas profilnya. Profilnya, yang tentu menginspirasi orang muda Flotim lainnya agar turut mengambil peran dalam menghidupkan dunia seni pertunjukan di Flores Timur.

Kami janjian bertemu pada pkl. 18.00 Witeng. Dan masing masing kami menempati janji itu. Saat bertemu, di lokasi (Duta Cafe) sudah ada salah seorang sahabat Redemtus Welan (Wartawan Jong Flores). Ditemani kopi Flores, bertiga berbagi cerita dan shering pengalaman. Lebih banyak mengupas soal profil Si Pemeran " Tonu Wujo"

Kesan pertama bertemu, prediksi saya di point pertama langsung gugur. Dalam balutan busana Lamaholot, cara melangkah dan berbicara di panggung pentas, saya memprediksi umurnya di atas 30 tahun. Namun dari raut wajah, sepertinya Ia masih mahasiswa. Benar, diperkenalan awal, Ia lahir di tahun 1992, tepatnya 20 Juni. Artinya, Ia baru berusia 26 tahun di 20 Juni 2018. Masih sangat muda. Ah..dosen mudah yah...

Dari nada bicara dan intonasi dipanggung, saya pastikan, ia adalah asli orang Larantuka. "Bukan kaka, saya bukan orang Larantuka le, saya orang Sabu. Saya baru beberapa bulan di Larantuka," katanya. Ah..Nona Sabu yah...gugur lagi, prediksiku yang kedua.

Bapa dari Sabu, Mama Sabu, Darah Sabu, lahir besar di Kupang, baru beberapa bulan di Larantuka, Flores Timur bisa memerankan sosok "Tonu Wujo" pasti ada hal hebat dan luar biasa pada diri dosen muda ini.

Dari namanya, memang masih sangat asing di Flores Timur. Yunitha Devrudyan Doko. Benarkan, namanya sangat asing untuk orang Flores Timur, namun kenapa ia begitu hebatnya di atas panggung dengan peran " Tonu Wujo" yang bagi kita Orang Flores Timur saja mungkin sulit untuk memerankannya.

Nitha, sapaannya punya pengalaman menarik di dunia menulis, melukis, menggambar, bernyanyi hingga main teater. "Dulu waktu SD, cita cita saya menjadi Seorang Komikus, SMP saya bercita cita menjadi seorang penulis cerpen, SMA saya ingin menjadi waratawan dan SI saya mau jadi artis panggung. Menjadi Komikus karena dulu saya suka baca komik,dan sering mengambar komik, menjadi penulis cerpen karena saya di usia SMP menghasilkan banyak tulisan cerpen, Ingin menjadi wartawan, karena waktu SMA di Geovani Kupang, saya termasuk salah satu pelajar yang dijaring oleh Pos Kupang menjadi Wartawan Pelajar di mana, kala itu, kami diberi kartu wartawan dan bisa melakukan liputan tentang apa saja di Kota Kupang dan sekitarnya. Kami diajarkan menulis berita, mengedit hingga cara menerbitkan tulisan melalui koran. Waktu itu, ada halaman atau rubrik yang disiapkan khusus untuk kami. Ada kolom inspirasi, rubrik Indahnya Budayaku dan lain lain. Saya masih ingat kami menulis artikel tentang facebook, dimana saat itu facebook menjadi isu yang aktual. Gaya bahasa yang kami gunakan adalah bahasa remaja. Bangga sekali,"tutur Nitha.

Di Dunia Kampus Nusa Cendana Kupang, Nitha terlibat di banyak komunitas teater diantaranya Komunitas Gembel Reformasi, Teater Tanya, Rumah Puitika dan lain lain. Di tahun 2010, Ia bersama teman teman di Komunitas Gembel Reformasi, membawahkan Parodi dengan Tema "Anggur Merah" yang berhasil keluar menjadi juara I pada lomba yang digelar oleh Infokom NTT. Selain beberapa karya lain,ia juga terlibat dalam pementasan teatrikal pada peresmian Gong Perdamaian di Kota Kupang, yang pada waktu itu, mereka dilatih oleh Seniman, Abdy Keraf.

Sepintas berkenalan dan ngobrol, saya menemukan jiwa pejuang pada diri Nitha. Sejak usia 4 tahun, ia harus bertahan hidup sendiri dengan mama karena ayahnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Ia bahkan tidak mengingat persis wajah bapanya. Sejak itu, ia bertahan hidup dengan mama dan adik bungsunya. Adiknya sekarang, waktu ayah mereka meninggal, ia masih dalam kandungan mamanya.
Bagi Nitha, sosok mamanya, Diana Doko itu, pekerja keras dan sangat disiplin. Ia pantang menyerah berjuang untuk kesuksesan anaknya. Walau hanyalah seorang Wiraswasta kecil. Mengambil peran mama, sekaligus bapa memang tidak mudah. Hanya perempuan perempuan tanguhlah, yang bisa bertahan. Dan itu ditunjukan oleh Ibunya Nitha. Lewat kesabaran,perjuangan, dan pengorbanan mamanya, Nitha bisa menamatkan pendidikan Sekolah Dasar pada SDN Bonipoi 1 Kupang (2004), SMP Negeri 2 Kupang (2007), SMAK Geovani Kupang (2010), Kuliah SI, FKIP Bahasa Indonesia Undana Kupang (2015) hingga menempuh Pendidikan Magister Linguistik Umum di Universitas Warmadewa Pulau Dewata Bali (2017).

Tamat di Universitas Warmadewa 2017, ia ditawarkan oleh Profesor Aron Meko Mbete, Asal Ende, Dosen Udayana Bali, untuk bergabung di IKTL Larantuka. "Kalau selesai studi magister, belum dapat kerja dan masih ngangur, bisa bergabung di IKTL Larantuka" demikian Nitha mengucapkan kata kata ajakan Prof Aron sesaat setelah ujian tesisnya. Memang dalam hatinya, ia tidak mau meninggalkan ibunya sendiri dengan adiknya yang bungsu di Kupang, namun di sisi lain, ia juga sementara memutar otak di mana ia harus bekerja nanti setelah dari Bali. Undana pasti sulit diterima.
Atas tawaran dan ajakan yang ada, Nitha melayangkan surat ke Pimpinan Yayasan IKTL di Larantuka. Dan selang beberapa bulan ia mendapat surat balasan dari pihak yayasan untuk diterima bekerja di IKTL. Ia datang dengan tidak mengenal siapa siapa di Larantuka. Tiba di Larantuka 5 Agustus 2017 dan resmi mulai bekerja di IKTL 7 Agustus 2017. Di IKTL, pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, ia mengasuh Mata Kuliah, Analisis Berbahasa Indonesia, Telaah dan Apresiasi Fiksi, Sosiologi Sastra dan Pengelolaan Majalah Sekolah.

Selain sebagai Dosen, Nitha dikenal sangat aktif menghidupkan kegiatan ekstrakurikuler pada bidang Seni. Bersama dua temannya Martinus Irwanto Ishak dan Dominikus Boli Watomakin membentuk sebuah komunitas sastra tingkat kampus yang dikenal dengan nama "Sleru" yang artinya sebuah piring atau wadah kecil yang kehadirnya dapat menjadi pelengkap. Terbentuk dengan 14 anggota, dan telah menghasilkan banyak karya yang dipentaskan di tingkat kampus diantaranya musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, tari kontemporer dan lain lain. Pentas yang mereka bawahkan di momentum wisuda perdana IKTL mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton.

Berawal dari panggung kecil dengan penonton yang terbatas inilah, Nitha mulai dikenal. Dan Rektor IKTL, Vinsensius Lembalah yang kemudian memperkenalkan Nitha dengan Romo Laurensius Riberu, Romo Moderator Komunitas Fanfare St. Caesilia yang saat itu sedang mencari fugur seorang perempuan yang bisa berperan sebagai " Tonu Wujo". Target awal memang harus ibu ibu, tapi kemudian pilihan jatuh pada seorang gadis Sabu. Nitha.

Saatnya Nitha menemukan dunianya kembali, bergabung dengan Tim yang sedang melakukan persiapan untuk pentas teater. Saat itulah, untuk pertama kali ia bisa bertemu dengan Zaeni Boli, dan kawan kawan, juga Sang Sutradara Kawakan, Silvester Petara Hurit. Dimata Nitha, Sivester itu seorang seniman hebat dengan ekspetasi yang tinggi, untuk sebuah pementasan. "K Sil itu, seniman hebat yang baru saya temukan. Sistem pelatihannya bagus. Di awal latihan, dia tidak kasih teks. Latihan terus berjalan tanpa teks. Saya ingat betul di beberapa hari awal kami latihan, kami diminta hanya jalan saja, seolah olah kaki tidak menginjak di tanah. Dan itu kami lakukan ulang ulang. Selanjutnya kami diperdengarkan dengan lagu lagu, bunyi suling yang bersenandung. Pokoknya, latihan yang tidak biasa dari sebelumnya yang saya alami. Baru diakhir latihan, kami diberi teks, syair dan langsung praktek. Saya pada satu adegan, K Sil buka musik dan langsung perintahkan saya menyanyi, spontan saya menyanyi lagu daerah yang langsung bisa, padahal saya bukan orang Larantuka. Hebatnya K Sil itu disitu,"tutur Nitha.

Nitha mengaku, perannya sebagai "Tonu Wujo" sangat bertolak belakang dengan karakter aslinya yang cerewet. Di bagian ini, K Sil Sutradara kami menerapkan stratrgi puasa bicara. "Saya mengikuti apa yang diarahkan K Sil, dan memang berhasil. Di kampus, beberapa hari jelang pementasan, saya puasa bicara. Malam hari saya dengungkan lagu lagu daerah yang digunakan dalam pementasan, dan ini cara yang efektif untuk berlatih. Latihannya memang berat. Tapi memang demikian. Untuk mendapatkan hasil yang berkualitas, latihan harus sungguh sungguh. Saya sempat sakit untuk beberapa hari. Sutradara kami menguatkan saya kata, sakit itu adalah pembersihan diri sebelum pentas. Benar apa yang dikatakan Sang Sutradara, jelang sehari pentas, sakit yang saya derita sembuh total, hingga aman sampai selesai pentas. Ada keajaiban yang saya rasakan,"kata Nitha.

Bagi Nitha, Hidup itu berawal dari mimpi. "Jangan takut bermimpi, jangan takut jatuh, beranilah mencoba. Jika hari ini antusias masih kurang dalam dunia seni, kita tidak boleh menyerah. Menyukai seni itu butuh proses. Jika ada panggung kita siap isi dan kalaupun tidak ada panggung, kita siap ciptakan.

Gadis Sabu yang memiliki hobi membaca, menulis, menggambar dan berteater ini ingin terus berkarya di Flotim. "Saya akan terus berkarya, berbagi dan menginspirasi anak anak muda Flotim untuk mencintai seni. Seni itu keindahan dan keindahan me ciptakan daya kreasi dan inovasi,"kata Nitha. Ia berpesan kepada anak muda Flotim untuk selalu menampilkan karya dalam mendukung perubahan di bidang masing masing sesuai talenta.

Setelah sukses mementaskan Teater "Tonu Wujo" di Taman Kota Felix Fernandez Larantuka, pada tanggal 7 Juni 2018 mendatang bersama tim akan ke Kupang, mengisi acara yang sama di Pesta Ulang Tahun Emas Paroki St. Yoseph Naikoten, mengisi acara di Gereja Asumta Kupang dan terakhir di Hotel Kristal Kupang.

Nitha, orang Sabu yang mampu menjiwai Budaya Lamaholot lewat perannya sebagai "Tonu Wujo". Bagaimana dengan kita, khususnya generasi muda yang berdarah asli Lamaholot....?* (Maksimus Masan Kian)


Jumat, 01 Juni 2018

Fanfare St.Caecilia Pentaskan Teater Tonu Wujo

Taman Kota Felix Fernandez Larantuka, pada Jumat Malam (1/6/18), dipadati oleh Warga Flores Timur menyaksikan secara langsung Pentas Teater “Tonu Wujo” yang dibawahkan oleh Lembaga Seni Budaya Musik Fanfare St.Caecilia dengan Sutradara, Pengamat sekaligus Kritikus Seni Indonesia, Silvester Petara Hurit.

“Tuno Wujo” sebagai figur mitologi yang ada dibalik seluruh aktivitas ladang masyarakat Lamaholot, Flores Timur dipentaskan oleh Komunitas Fanfare St. Caecilia memberi kisah krisis ketiadaan bahan makanan, keputusan dan pengorbanan “Tonu Wujo” bagi kelangsungan hidup saudara – saudaranya termasuk pengembaraannya memberikan diri dalam wujud padi, jagung shorgum dan aneka bahan bahan pangan. 

Hadir pada malam itu, Yang Mulia Bapa Uskup Larantuka, Fransiskus Kopong Kung, Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, Ketua DPRD Flores Timur, Yoseph Sani Bethan, Pimpinan OPD, Ketua Komunitas Fanfare, Ketua Yapersuktim Romo Thomas Labina, Romo Deken dan sekitar 500 warga yang menyaksikan pertunjukan. 

F.X Semakur, Ketua Panitia Pentas Teater dalam laporannya menyampaikan, alasan mengapa Teater “Tonu Wujo” di garap dan dipentaskan?. Bagi Semakur dan teman temannya di Komunitas Fanfare, sejauh pegamatan mereka, rasa cinta warga akan kebudayaan sendiri sepertinya pudar akibat derasnya perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi. Olehnya, dengan pentas “Tonu Wujo”, setidaknya dapat  menghimpun potongan – potongan budaya Lamaholot yang tercecer. “Pentas malam ini diharapan menjadi sebuah ajang refleksi bersama bahwa kekayaan budaya kita orang Lamaholot luar biasa. Dalam kebiasaan berladang, sejak zaman dahulu leluhur kita telah mewariskan, ada yang namanya Pepang. Artinya setelah panen, kita memilah bagian yang disiapkan untuk benih dan bagian yang disiapkan untuk kebutuhan sehari hari. Khusus untuk benih, sepanjang tahun dijaga dan dirawat dengan sebaik baiknnya sampai musim tanam tiba. Hingga kemudian, benih itu ditanam. Ini warisan leluhur yang sangat bermakna untuk kehidupan kita sehari- hari,”kata Semakur.

Wakil Bupati Flores Timur, pada kesempatan itu menyampaikan apresiasi kepada Segenap Komunitas Fanfare St. Caesilia yang memberi warna dalam dunia seni di Flores Timur. “Seni bagi saya adalah suatu keindahan. Dan suatu keindahan memberi kedamaian. Malam ini, Komunitas Fanfare telah menciptakan keindahan dan kedamaian. Dua hal ini sangat mendukung dalam upaya mempererat rasa kekeluargaan, persaudaraan dan rasa toleransi antar umat beragama. Pentas teater yang mengangkat budaya lokal Flores Timur akan membentuk karakter seseorang atau bahkan satu generasi, juga menciptakan sebuah peradaban yang baik. Sebagai pemerintah, kita siap memberi dukungan yang lebih kongkrit dalam menciptakan iklim seni yang terus berkembang maju di daerah.

Teater yang berdurasi kurang lebih 60 menit itu mampu menghipnotis penonton pada sebuah kesadaran akan makna pengorbanan seorang perempuan, seorang ibu untuk kehidupan. Tentang sebuah kehidupan yang berkelanjutan maka ada yang harus dikorbankan. Gambaran figur seorang “Tonu Wujo” Sebuah pentas yang membaurkan fakta dan mitologi; bergerak antara aktivitas ladang, sukacita panen, kisah suci Tonu Wujo dengan menggali kekuatan nyanyian rakyat sebagai daya rekat sekaligus kekuatan utama pertunjukan. Sebuah karya hebat dan menjadi tontonan yang luar biasa dalam kanca pertunjukan seni di daerah.

Dibalik suksesnya Pertunjukan Teater “Tonu Wujo” ada seorang yang luar biasa, Silvester Petara Hurit, Pengamat sekaligus Kritikus Seni Indonesia, yang selalu punya kreasi dan warna baru dalam mempersembahkan pentas seni di Flores Timur.Pendiri Komunitas Seni, Nara Teater ini, sepertinya tak pernah letih untuk mengabdi di jalan seni. Karyanya mengharumkan nama daerah Flores Timur dan kreasi ciptaannya menyadarkan Anak Lamaholot akan ciri khasnya.

Geliat seni di Flores Timur tercipta melalui ajang ajang seni yang rutin diadahkan. Tentang potensi, kekayaan budaya Lamaholot, kita tidak tertandingi. Hanya butuh komitmen dan konsistensi untuk menghidupkan dan melestarikan dan memetik maknanya melalui kreasi kreasi seni yang sangat rajin dilakukan Silvester Hurit bersama kawan kawannya.

Komunitas Fanfare St. Caesilia kembali akan menggelar Pertunjukan Seni Teater “Tonu Wujo” di Paroki Naikoten Kota Kupang pada tanggal 9 Juni 2018.Untuk dukungan keberangkatan mereka, puncak acara diisi dengan pelelangan lagu. Acara ini dipandu langsung oleh Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli. Hasil lelang dua lagu tersebut berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 50.000.000.(Kbf)