Senin, 09 Juli 2018

Ribuan Warga Witihama, Jemput Pater Jessing (Imam Asal Jerman yang Memilih Merayakan Pesta Emas Imamatnya di Witihama, Adonara)

(Penjemputan Pater Jessing, ditandai dengan Pengalungan Sarung Adat Adonara)

Sudah puluhan tahun ia meninggalkan Witihama. Sudah Sekian lama, ia tidak lagi bersama dengan umat di Witihama. Jika demikian, pada umumnya orang sudah mulai saling melupakan. Tidak lagi akrab saat mulai berpindah ke sebuah komunitas baru, atau sebuah tempat baru. Tapi ini berbeda. Kisah kebersamaan, kekeluaragaan antara Umat Witihama dan Pater Jessing sepertinya tak penah pudar. Kisah suka dan duka masih terus melekat dalam sanubari. Umat Witihama tidak bisa melupakan Pater Jessing, sebaliknya dan Pater Jessing tidak melupakan Umat Witihama.

Delapan Belas (18) tahun bersama umat di Witihama, Pater Jessing tidak hanya memainkan peran sebagai seorang imam semata, tetapi juga sebagai pelayan dan pemimpin bagi Warga Witihama. Bahkan beberapa Warga Witihama, menjulukinya sebagai Imam Pembagunan. Julukan ini bukan tidak beralasan. Jika ingin disebutkan, jasa Pater Jessing dalam pembangunan di Witihama luar biasa. Jasa pembangunan itu di antaranya; Merenovasi Gereja Paroki Witihama, Membangun jaringan air minum, masuk ke Desa-desa 

Wai Bele, di Loga Desa Lewopulo, untuk wilayah Witihama kompleks dalam, Wai Lawe, di Desa Puhu – Tapobali, untuk Desa Watololong, Lamaleka, Balaweling, Sandosi, Tobitika, Riangduli, Tuwagoetobi, Wai Doko, di Desa Koli Lanan untuk Wilayah Witihama kompleks dalam. (karena jaringan air minum melewati beberapa desa di Kecamatan Kelubagolit maka beberapa titik air untuk Desa Lamabunga dan Adobala), Membangun jembatan mini di Desa Waiwurig, (sekarang sudah tidak berfungsi) untuk berlabuhnya kapal yang mengangkut material, Litrik Desa, yang digunakan oleh beberapa desa dalam kompleks Witihama, Membangun kapela-kapela di stasi-stasi se- Paroki Witihama, Membangun sekolah-sekolah mulai dari TK, SD dan SMA, Membangun fasilitas kesehatan Pulitoben Witihama. 



Antusia Ribuan Masyarakat Witihama Menjemput Pater Jessing, Seperti Yesus diarak Masuk ke Yerusalem
Luar Biasa! Itulah kata yang terlontar melihat ribuan masyarakat Witihama memadati jalan sepanjang Desa Lamabelawa – Nama Tukan – Gereja Paroki Witihama. Selasa (10/7/18) menjadi hari bersejarah.Kerinduan umat/masyarakat Witihama bertemu dengan Pater Ludger Jessing terobati. 

Sehari sebelumnya, Pater Jessing menyempatkan diri berbagi kisah dan memori dalam nuansa kekeluargaan bersama Anak Lewotana Witihama yang berdomisili di Larantuka. Selasa pagi, Pater Jessing menuju ke Adonara melalui penyeberangan Larantuka – Tobilota. Pater Jessing, singgah dan beristirahat sebentar di Dekenat Adonara, selanjutnya pada pkl. 15.00 wita menuju ke Witihama.

Pkl. 13.00, ratusan masyarakat Witihama sudah memadati halaman Gereja Paroki Witihama. Mereka secara spontanitas menjemput Pater Jessing di Witihama. Warga membanjiri setiap ruas jalan utama dalam, yang akan dilalui Pater Jessing.Bukan hanya Umat Katolik, umat Islam turut mengambil bagian secara penuh dari momentum kebersamaan Lewotana ini.
Ratusan kendaraan baik roda dua, roda empat berarak  ke Waiwerang menjemput Pater. Orang tua, Anak muda, berjejel di jalan seolah tidak mampu lagi menahan kerinduan untuk bisa melihat wajah Pater Jessing.

Saat rombongan dari Waiwerang riba tiba di depan SDK Lamabelawa, Pater Jessing di jemput dengan tarian Hedung dari Persatuan Pemuda Lamabelawa (PPBL) Desa Lamabelawa. Mereka mengiringi kendaraan Pater Jessing dengan tarian hedung di depan SDK Lamabelawa hingga Balai Desa Lamabelawa, tempat acara penjemputan dilaksanakan.

Sungguh, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, menyaksikan ribuan masyarakat menyoraki Pater Jessing, saat beliau turun dari mobil.
Banyak yang berteriak histeris, ada yang menangis haru bercampur bahagia, ada yang menyoraki dengan tepukan tangan, ada yang berebutan berjabatan tangan dengan Pater Jessing, sampai-sampai, aparat keamanan kesulitan untuk membebaskan jalan bagi Pater Jessing. 

Di depan Balai Desa Lamabelawa, Pater Jessing diterima dengan upacara adat, oleh masyarakat Witihama, Camat Witihama, Pastor Paroki Witihama, KUA Witihama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, para Imam dan Suster asal Paroki Witihama, Suster-suster CB Melati Pulitoben, dan ribuan masyarakat Witihama.
Setelah upacara  adat, Pater Jessing berarak bersama seluruh masyarakat penjemput menuju ke Gereja Paroki Witihama, dengan diiringi tarian hedung dari sanggar Oe Sason Desa Pledo.
Sebelum ke Gereja, Pater Jessing disapa dan dijemput oleh Ama Boro Goran Tokan (Tokoh Adat/Masyarakat Witihama) masuk ke rumah Atu Lolon, Pater juga di sapa dengan sapaan adat dan behin baun, wua warak, sebagai symbol budi adat masyarakat Witihama.
Rombongan kemudia berarak menuju ke Gereja. Seluruh umat tumpah ruah di Gereja. Baik yang Katolik maupun Islam, mereka mengantar Pater Jessing sampai di Gereja dan mengikuti ibadat pemberkatan oleh Pater Jessing. 

Dalam sapaannya, Pater Jessing mengatakan bahwa dia merasa sangat terharu menyaksikan antusiasme masyarakat Witihama yang begitu banyak menjemputnya. Bahkan umat Muslim pun turut hadir dalam penjemputan dan ibadat ini.
“Sungguh Ini merupakan pengalaman pertama sepanjang perjalanan hidupnya selama 83 tahun hidupnya dan selama 50 tahun Imamatnya” katanya.
Ia mengibaratkan bahwa pengalaman sore hari ini seolah seperti Yesus yang diarak memasuki Kota Yerusalem.
Diakhir sapaanya Pater Jesing mengharapkan semoga, kebersamaan dan kekeluargaan yang terjalin antara umat Katolik dan umat Islam ini tetap terjaga dan terawat, sampai akhir jaman.
Ibadat, ditutup dengan berkat dari Pater Jessing. Setelah itu dilanjutkan dengan minum bersama di Emperan Gereja. 

Sungguh indah melihat dan menyaksikan situasi hari ini. Dan sungguh terharu menyaksikan ribuan masyarakat witihama, yang tidak memandang perbedaan keyakinan, tapi merasa bahwa Ama Jessing adalah bagian dari Witihama.
Kebersamaan dan kerukunan di Witihama tercipta hingga saat ini sebab, Sebelum mengenal agama, mereka telah terekat dalam ikatan satu budaya. Budaya Lamaholot. Maka tidak heran panorama toleransi beragama (Islam & Katolik ) seperti ini. Katolik dan islam bersatupadu, bersama sama, walau itu di dalam gereja sekalipun. Ini terjadi di Tanah, Witihama, Pulau Adonara, Flores Timur, NTT.(Maksimus Masan kian & Eman Ola Masan Lamabelawa)
Sumber Foto  : Malez Lamahoda dan Eman Ola Masan Lamabelawa

Minggu, 08 Juli 2018

Imam Berkebangsaan Jerman Rayakan Pesta Emas Imamatnya di Witihama

Pater Ludger Josef Jessing, SVD

Ama Jessing, sapaan Pater Ludger Josef Jessing, SVD menjatuhkan pilihan merayakan Pesta Emas (50) tahun perjalanan sebagai Imam di Paroki Witihama. Pilihan ini luar biasa dan punya makna iman yang kuat. Tentu bukan sebuah kebetulan. 18 tahun bersama umat Witihama, bukan sebuah waktu yang singkat. Banyak kenangan tercipta bersama Umat di Paroki Witihama. Tuhan, alam raya juga leluhur merestui terciptanya momen ini. Momen bernostalgia bersama Umat Witihama. Kisah 18 tahun menjalan pelayanan di Witihama, bergulat bersama umat menjadi alasan
Ini sejarah. Baru pertama kali terjadi. Seorang imam berkebangsaan Jerman merayakan 50 tahun pesta imamatnya di Witihama, Adonara, Flores Timur NTT. Sebuah pilihan yang bukan spontan tapi berangkat dari refleksi yang dalam untuk menjatuhkan pilihan ini. 18 tahun berada di Witihama, banyak kisah telah diukir bersama. Baik dalam suka maupun dalam duka.
Pater tidak melupahkan umat di Witihama. Sebaliknya, umat Witihama juga tidak pernah melupakan Pater. Jasa pelayanan sebagai imam, kesosialannya yang tinggi terus dikenang dan diwujudkan nyatakan melalui momentum hari ini hingga besok.
Dijadwalkan, sore ini seluruh umat Witihama menjemput Pater di gerbang masuk Kecamatan Witihama di Desa Lamablawa, Pater selanjutnya diarak menuju ke Pastoran Paroki Witihama, selanjutnya akan merayakan puncak acara yang diselenggarakan besok, Selasa 10 Juli 2018 di Paroki Witihama.
            Sejak pekan lalu, seluruh umat se Paroki Witihama baik Katolik maupun Islam bersatu pada dan bersama sama melakukan berbagai persiapan demi lancarnya Pesta Iman ini. Warga mengkontribusikan waktu, tenaga, pikiran dan materi sebagai wujud kecintaan dan kenangan akan jasa-jasa Pater Jessing selama kurang lebih 18 tahun memberi diri untuk pelayanan iman dan sosial di Witihama.
                                Pater Jessing saat disambut Keluarga Witihama di Kota Larantuka

Karya pater jessing di witihama
Selama berkarya di Witihama, Adonara, Pater Jessing banyak membuat perubahan dalam merubah dan menata wajah Witihama bahkan Adonara. 

Karya-karyanya selama di Witihama antara lain : 

Ø  Merenovasi Gereja Paroki Witihama.
Ø  Membangun jaringan air minum, masuk ke Desa-desa
Wai Bele, di Loga Desa Lewopulo, untuk wilayah Witihama kompleks dalam.
Ø  Wai Lawe, di Desa Puhu – Tapobali, untuk Desa Watololong, Lamaleka, Balaweling, Sandosi, Tobitika, Riangduli, Tuwagoetobi.
Ø  Wai Doko, di Desa Koli Lanan untuk Wilayah Witihama kompleks dalam. (karena jaringan air minum melewati beberapa desa di Kecamatan Kelubagolit maka beberapa titik air untuk Desa Lamabunga dan Adobala).
Ø  Membangun jembatan mini di Desa Waiwurig, (sekarang sudah tidak berfungsi) untuk berlabuhnya kapal yang mengangkut material.
Ø  Litrik Desa, yang digunakan oleh beberapa desa dalam kompleks Witihama.
Ø  Membangun kapela-kapela di stasi-stasi se- Paroki Witihama.
Ø  Membangun sekolah-sekolah mulai dari TK, SD dan SMA.
Ø  Membangun fasilitas kesehatan Pulitoben Witihama. 


Selain karya-karyanya dalam membangun fisik Witihama (mungkin masih ada karyanya yang lain yang tidak sempat kami catat), Pater Jessing juga sangat dekat dan akrab serta selalu menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh adat, tokoh agama baik Islam maupun Katolik, tokoh-tokoh masyarakat, serta seluruh warga masyarakat Witihama maupun diluar Witihama. 

Sebagai misionaris Pater Jessing telah meletakan dasar iman umat Katolik di Paroki Witihama. Bersama Agen Pastoral Tidak Tertabis (Guru Agama Kampung), ia berjalan dari stasi ke stasi siang maupun malam, melayani Umat Katolik di Stasi-stasi. 

18 tahun berada di Witihama dan seluruh karyanya, membuat umat/masyarakat Witihama sudah mengangap bahwa Pater Jessing sudah menjadi bagian dari Witihama, beliau sudah dianggap menjadi anak Lewotanah, sehingga ia selalu disapa Ama Jessing. 

Di usia Emas Imamatnya, ia memilih merayakannya di Witihama, mungkin ia memiliki alasan tersendiri mengapa dirayakan di Witihama, mungkin baginya Witihama sudah menjadi bagian dari hidupnya. 

Namun bagi orang Witihama, momen ini merupakan kesempatan emas bagi untuk bernostalgia dengan Pater Jessing.
Jasanya untuk Witihama, memang tidak akan terlupakan dan tidak bisa terbalas, umat/masyarakat hanya berpartisipasi dalam merayakan pesta emasnya. 


Profil Pater Ludger Josef Jessing, SVD
Ludger Josef Jessing, dilahirkan pada tanggal 3 Agustus 1935 di kota Horstmar, Jerman. Orang tua Bapak Wilhelmus dan Mama Maria Jessing.
Anak keenam dari 11 bersaudara (5 saudara dan 5 saudari).

Riwayat Pendidikan:
Ø  Pendidikan Dasar dan Menengah: Gradeschool dan Highschool: Agustus 1941 - Maret 1950.
Ø  Pendidikan dan Pekerjaan di Sekolah Teknik: 1950 - 1955.
Ø  Pendidikan di Seminari SVD (Gymnasium/College): 1955 - 1960.
Ø  Studi Filsafat di Austria: 1960 - 1964.
Ø  Studi Teologi di Seminari di Chicago, Amerika Serikat: 1964 - 1968.
Tahbisan Imam Dan Karya Misi :

Pater Ludger Jessing ditahbiskan di Chicago pada tahun 1968.
Setelah itu, ia membantu di paroki di St. Peterburg, Florida pada tahun 1968 - 1970.
Pada pertengahan tahun 1970, dari Florida Pater Jessing diutus sebagai misionaris di Indonesia. Ia tiba di Ende, Flores bulan Agustus 1970. Selama di Ende ia belajar bahasa Indonesia.
Tahun 1971, Pater Jessing diutus dan ditugaskan menjadi Pastor Paroki Witihama, menggantikan P. Franz Laug, SVD (1967 – 1971).
Pater Jessing berkarya di Witihama hingga tahun 1989 (± selama 18 tahun).  Setelah dari Witihama, ia menjadi Pastor Paroki Watublapi, Sikka, Flores tahun 1989 - 1999. Selanjutnya ia berkarya di beberapa daerah di Pulau Jawa dan di Amerika Serikat, yakni ;Pastor paroki St. Yohanes Pemandi, Surabaya, Jawa Timur: 1999 – 2004, Pastor pembantu di Malang, Jawa Timur: 2004 – 2005, Pindah ke Propinsi Selatan Amerika Serikat: Agustus 2005, Pastor pembantu di Little Rock, Arkansas: 2005 – 2006, Pastor paroki di Vicksburg, Mississippi: 2006 – 2008, Pastor paroki di Liberty, Texas: 2008 – 2010, Studi bahasa Spanyol di Mexico: 2011, Membantu di paroki-paroki SVD dari tahun 2012 sampai sekarang dan menetap di Cleveland, Texas. (Maksimus Masan Kian dan Eman Ola Masan Lamablawa)