Sabtu, 20 Agustus 2016

MALAM MINGGU BERSAMA PACAR GELAP PUISI

(Bara Pattyradja)
Litera (Ciputat)- Sekitar lima puluh pegiat seni dan sastra hadir di cafe ruang tengah, futsal camp Ciputat pada sabtu malam (20/8). Sebagian adalah para pegiat seni yang aktif dan berdomisili di Tangerang Selatan dan Jakarta. Sebagian besar dari mereka justru adalah mahasiswa dan pecinta sastra yang berasal dari Flores yang tersebar di wilayah Bogor dan Depok. Mereka hadir untuk menjadi saksi dan memeriahkan launching buku Pacar Gelap Puisi karya Bara Pattyradja, seorang penyair muda kelahiran 12 April 1983 di Lamahala, Flores Timur, NTT.

Acara dimulai pkl 20.00 dan dipandu oleh arief D Hasibuan, pegiat sastra yang aktif di komunitas oretan liar. Launching buku dimeriahkan dengan bincang-bincang dan penampilan dramatic poetry reading yang diiringi petikan gitar Ivan Nestorman. Hadir sebagai pembedah buku adalah Fahd Pahdepie, penulis muda yang belakangan ini cukup menjadi perhatian di media sosial dan Bona beding, seorang pegiat budaya.

Dalam diskusinya Fahd Pahdepie menekankan jika perbedaan identitas dalam suatu masyarakat di sebuah bangsa yang besar dan plural bukanlah suatu hal yang harus dipertentangkan, begitu pula dalam suatu entitas yang disebut seni dan budaya. Keragaman jangan menjadi sebuah pemicu yang dapat menyebabkan suatu pertikaian yang serius. Keragaman bahkan terkadang mampu membuat suatu bangsa kaya akan budaya.

“Dalam konteks ini, jangan menganggap bahwa perbedaan identitas sebagai pacar gelap yang mampu membuat kita menjadi seorang yang mudah terprovokasi. Pacar gelap Puisi anggaplah sebuah formalitas,” tutur Fahd penuh semangat.

“Sesungguhnya telah terjadi semacam hibrida kebudayaan. Kita bisa melihat hibrida kebudayaan itu sekarang. Kita membaca puisi-puisi tentang Flores di Ciputat dan persis di samping kita adalah lapangan futsal yang sedang ramai bertanding futsal sambil kita minum kopi Gayo,” lanjut Fahd dengan suara kencang karena suasana malam memang ditimpali dengan keriuhan pertandingan futsal.

Fahd mengajak para audiens untuk membongkar politik kebudayaan, salah satu cara tersebut dapat melalui puisi seperti yang telah dilakukan oleh Bara.

“Cara kita memperkenalkan puisi bisa lebih terbuka sehingga apa yang disebut Pacar Gelap Puisi tidak lagi gelap dan buram. Puisi bisa kita rayakan dengan indah tanpa kehilangan identitas.” Fahd menutup prolog panjangnya.

Bona Beding seorang pegiat budaya yang hadir sebagai pembicara kedua lebih melihat buku Bara dalam perspektif estetika dan unsur puitikanya.

“Diksi puisi Bara cukup kuat. Diksi adalah diktum yang berarti keyakinan. Bara seakan menuangkan energinya dengan penuh keyakinan dalam puisi-puisi di buku ini meski jauh di luar itu sang penyair juga sedang mengalami persoalan identitas.” Bona lalu membaca serta menelaah satu atau dua baris puisi Bara.
“Saya memang belum membaca semua puisi dalam buku ini, tapi dengan menilik sebagian saja, saya bisa melihat dan merasakan unsur estetis yang begitu puitis,” tutup Bona.

Bara Pattyradja sendiri melihat bahwa persoalan identitas itu persoalan yang bersifat ilusif.
“Identitas menjadi ilusif, sesuatu yang tak selesai dan tersumbat. Saya melihat justru Sunda tak lagi seperti Sunda, atau orang Padang tak lagi seperti Padang. Pacar Gelap Puisi justru ingin memberi suatu gambaran tentang identitas yang ilusif itu. Ini bukan berarti bahwa kita harus melihat puisi sebagai suatu pacar gelap yang buram. Buku ini hanya ingin menekankan bahwa memang ada persoalan identitas dan anggaplah itu pacar gelap puisi.

Rencana dalam launching buku akan menghadirkan aktris Olivia Zalianty, karena jadwal yang padat maka Olivia tak bisa hadir. Meski tanpa kehadiran Olivia, acara launching buku berjalan sangat meriah dan penuh kehangatan. Banyak peserta turut membaca puisi. Bahkan sang penyair turut menari dan menyanyi diiringi petikan gitar Ivan Nestorman yang malam tadi seolah-olah ingin mengajak rekan-rekannya mengenang kampung kelahiran mereka. Ivan mendendangkan lagu-lagu Flores.

Saat awak Litera wawancara ringan dengan Bara, penyair yang telah melahirkan empat buku karya tunggal itu mengatakan bahwa ia membutuhkan dua hingga tiga tahun untuk mempersiapkan Pacar Gelap Puisi ini.
“Tapi persiapan tehnis untuk cetak buku dan launching tak sampai dua bulan,” terang Bara pada Litera. Bara menceritakan jika dia pindah ke Jakara belum satu tahun. Ia selain aktif menulis puisi juga sedang mengambil program magister di sebuah universitas di perbatasan Tangsel dan Jakarta.

Pacar Gelap Puisi adalah buku Bara yang ke-empat. Dua buku sebelumnya ditulis saat Bara masih menjadi mahasiwa dan aktif bergiat di Yogyakarta. Buku ketiga ditulis di NTT saat ia aktif mengasuh Rumah Poetika. Selesai menyelesaikan pendidikannya di Yogyakarta, Bara memang kembali ke NTT.

Obrolan Litera dengan Bara berjalan ringan dan santai karena diselingi permintaan tanda tangan dan foto bersama dari para peserta pada sang penyair. Seusai diskusi sebenarnya ada agenda penulisan tanda tangan dan sesi foto bersama, tetapi memang lebih indah jika foto bersama sang penyair dalam suasana yang santai dengan angle yang beragam. Saat sebagian besar yang hadir telah meninggalkan cafe karena malam telah beranjak larut, Arief D Hasibuan sang pemandu dan moderator acara asyik membaca puisi di panggung dan bernyanyi bersama beberapa rekan pegiat sastra. (Mahrus Prihany)  

Penulis : Mahrus Prihany  
21/08/2016  

Jumat, 19 Agustus 2016

MAHASISWA UNDANA, BUAT SIRUP MENTE DI DESA ILE PADUNG

(Mahasiswa Undana Pose Bersama Camat Lewolema Yohanes Ibi Hurint, usai Apel 17 Agustus 2016 di Lapangan Bola Kaki Desa Painpang)

Selain mempraktekkan proses pembuatan sirup mente, mereka juga mendampingi warga dalam pembuatan abon dan selei dari buah mente.

Sebanyak 48 Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang sejak 12 Agustus 2016 berada di Desa Ile Padung Kecamatan Lewolema dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Pemberdayaan Masyarakat. Mahasiswa semester 7 yang berlatar ilmu Teknik Pertanian mengaplikasikan pengetahuannya mendampingi warga Ile Padung membuat Sirup Mente.
Ketua Umum KKN PPM Undana Tahun 2016 Vinsensius Sapeama Herin Rabu (17/8/16) usai Apel memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke- 71 di Lapangan Desa Painapang mengatakan tujuan mahasiswa melakukan KKN adalah mengaplikasi ilmu yang mereka dapat di bangku perkuliahan. Ada 48 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) terlibat dalam kegiatan ini. “Tujuan KKN adalah sebagai sarana mahasiswa mengaplikasikan ilmu, teori dan konsep yang didapat dibangku kuliah. Mengapah memilih Desa Ile Padung, karena berdasarkan data, desa ini menjalankan usaha Kancip Mente namun buah dari mente belum dimanfaatkan. Kami hadir untuk mendampingi warga memanfaatkan buah mente menjadi sirup mente,” Kata Vinsen.
Mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum asal Solor Flores Timur ini mengatakan selain mempraktekkan proses pembuatan sirup mente, mereka juga mendampingi warga dalam pembuatan abon dan selei dari buah mente. Sementara kegiatan sosial lainnya yang melibatkan Mahasiswa berlatar ilmu Peternakan, Hukum, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan ilmu Sosial diantaranya pembenahan struktur administrasi desa, bahkti sosial, kegiatan olaraga, pelibatan dalam kegiatan menyongsong HUT RI ke- 71, dan lain – lain.
Mahasiwa dalam kegiatan ini terlibat dan merasakan kehidupan yang dialami masyarakat Desa Ile Padung. Suka dan duka mereka lalui bersama warga. Dari 48 mahasiwa, mereka tersebar di 4 dusun dalam Desa Ilepadung yakni Dusun Riang Pedang, Dusun Riang Bao, Riang Moto dan Riang Tobi.
Dewiyanti Ismail mahasiswa semester  7 asal Lembata salah satu peserta kegiatan ini mengaku senang bisa terlibat langsung bersama masyarakat. Bersama warga Ile Padung ia merasakan seperti keluarganya sendiri. “Bersama warga Desa Ilepadung kurang lebih seminggu ini terasa seperti keluarga sendiri. Ada banyak hal yang saya belajar dari masyarakat di kampung ini. Mereka sangat gigih menjalankan kehidupannya di tengah perekonomian yang sulit. KKN menjadi bagian penting dalam pembekalan dan pembentukan karakter mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja. Kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat. Kami mendapat ruang untuk mempraktek ilmu – ilmu yang kami pelajari dibangku perkuliahan. Semoga ilmu dan praktek yang kami bagikan, dapat diteruskan oleh warga dalam peningkatkan pendapatannya di desa, kata Dewi.(kbf)


FESTIVAL SENI, RUANG PENCERDASAN DAN KRITISISME PUBLIK

(Silvester Petara Hurit/Pengamat Teater Nasional asal Flores Timur)
 
Festival Seni diharapkan menjadi ruang pencerdasan dan kritisisme publik.  Seni mestinya memproduksi wacana/gagasan. Mendorong perubahan dan kebaruan. Spirit ini yang perlu ditumbuhkembangkan pada generasi muda pemilik masa depan Flores Timur. Kita berharap ke depannya kota ini dihuni dan dipimpin oleh orang-orang kreatif.

Kota Larantuka secara khusus dan Kabupaten Flores Timur pada umumnya kembali akan diramaikan dengan Festival Seni Pertunjukan Antar SMA/SMK/MA se-Kabupaten Flores Timur yang akan dilangsungkan dari tanggal 25-26 Agustus 2016 di Taman Kota Larantuka diikuti oleh 16 sekolah di Flores Timur.
Di samping pentas seni, kegiatan ini akan disemarakan dengan pameran buku dari Penerbit Nusa Indah Ende, pembacaan puisi, bincang-bincang dengan seniman/pengamat seni dan sajian musik anak muda Maumere yang bergabung dalam Nian Tana Akustik.
Akan hadir Pengamat Seni, Ikra Anggara (Penggagas dan pengarah Festival Teater Remaja Jawa Barat), Ragil Sukriwul (Coloteme Art Kupang), Silvester Petara Hurit (Pengamat Teater Nasional asal Flores Timur).
Silvester Petara Hurit kepada kabarflotim Jumat (19/8/16) mengatakan Festival Seni Pertunjukan Antar SMA/SMK/MA merupakan event tahunan yang dilaksanakan secara rutin. Bagi Silvester yang juga adalah staf pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flotim, kendala keterbatasan dana, tidak menyurutkan semangat untuk tetap mengiatkan aktivitas seni di Flores Timur.  “Mitra kreatif antar komunitas seni baik yang ada di Flores Timur maupun di luar Flores Timur perlu selalu diupayakan sebagai ruang pergaulan kreativitas, ruang silaturahmi dan ruang pembelajaran bersama menyukseskan kegiatan ini. Semua pihak hendaknya melihat event tahunan pelajar ini sebagai wadah pengembangan kreativitas yang sangat berguna di masa mendatang. Pemerintah perlu mendorong masyarakat, pelaku dan badan usaha untuk mensupport kegiatan semacam ini sebagai bentuk kontribusi sosial terutama bagi pembentukan dan pembinaan generasi muda,” kata Silvester.
Silvester Petara Hurit, Pengamat Teater Nasional asal Lewotala Flores Timur ini mengharapkan event Festival Seni Pertunjukan Antar SMA/SMK/MA menjadi ruang pencerdasan dan kritisisme publik.“ Kita berharap semoga event Festival Seni Pertunjukan Antar SMA/SMK/MA menjadi ruang pencerdasan dan kritisisme publik. Seni mestinya memproduksi wacana/gagasan. Mendorong perubahan dan kebaruan. Spirit ini yang perlu ditumbuhkembangkan pada generasi muda pemilik masa depan Flores Timur. Kita berharap ke depannya kota ini dihuni dan dipimpin oleh orang-orang kreatif,”kata Silvester..
Sesuai dengan rencana undangan yang hadir diantaranya Penjabat Bupati Flotim dan segenap pimpinan daerah/badan/kantor/instansi. Pimpinan dan Anggota DPRD Flotim, tokoh masyarakat/tokoh umat, awak media Flotim, tokoh generasi muda, para kepala sekolah, para pelajar dan warga Flores Timur.
Penangungjawab Umum dari event ini adalah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur, Andreas Ratu Kedang, dengan Ketua Pelaksana, Kepala bidang kebudayaan Dra. Matilde K. Wungbelen. Penata Pentas, Hani Balun, Master of Ceremony, Sevi Belang dan Mitra publikasi pameran buku, Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Cabang Kabupaten  Flores Timur. (kbf)