Jumat, 07 April 2017

Nara Teater Harumkan Nama NTT di Kanca Nasional (Pentas Cerita Rakyat Flotim "Ina Bengan")


Nara Teater dibawah pimpinan Silvester Hurit beranggotakan Bram Nonvivara Wahang, Martin Paun, Magdalena Eda Tukan, Vero Ratu Making, Jhon Da Silva, dan Hanny Balun menjadi satu - satunya teater di NTT yang tampil pada Festival di Cirebon, Senin (6/4/17) mengharumkan nama NTT di kanca nasional.

Teater yang belum setahun terbentuk ini, mengangkat cerita tentang “Ina Bengan”. Kisah Ina Bengan mengangkat tradisi belis perempuan Adonara. Bagaimana ia bertangungjawab terhadap keluarga besar suku suaminya. Ina Bengan tidak bisa memberi keturunan anak laki- laki, sehingga suaminya memutuskan untuk menikah lagi. Pada situasi ini Ina Bengan sebagai perempuan Lamaholot, sebagai perempuan Lamaholot bagaimana menempatkan diri dalam konteks budayanya.
Magdalena Eda Tukan, dalam peran sebagai Ina Bengan mengajak penonton yang hadir tenggelam dalam pergolakan batinnya berkorban kepada suku suaminnya. Bersama pasangan Jhon Da Silva dan aktor – aktor yang lain berhasil mengajak penonton untuk melihat tradisi belis adat Lamaholot dan bagaimana bicara tentang gender.

Luar biasa, perjuangan Silvester Hurit bersama teman - teman, yang hanya bermodalkan semangat ingin mengharumkan nama NTT dan Flores Timur di kanca nasional. Ini hal yang membanggakan yang mestinya mendapatkan dukungan lebih, dari segenap komponen terkait di daerah.

Tentang dunia Seni, seorang Silvester Hurit telah berkontribusi banyak. Walau soal yang satu ini, sepertinya kurang seksi untuk diperbincangkan, perjuangan Putra Lewotala ini tak pernah surut. Bagi Silvester, sesungguhnya tentang dunia teater menjadi bagian penting yang boleh digeluti kaum muda Flotim. "Dunia moderen yang mengandalkan pesan - pesan melalui media visual, memerlukan keterampilan dasar masyarakat dengan pentas teater. Dengan pentas teater, dapat menampilkan pesan ke dunia luar melalui film atau drama,'kata Silvester Hurit

2 guru kampung, Anggota Agupena Flotim Abraham Ola dan Martin Paun( Guru SMAN 1 Adonara Barat) turut mengambil peran sebagai aktor dalam pentas cerita rakyat flotim ini. Walau minim dukungan di daerah, dengan dukungan Lewotana Lamaholot mereka telah memberikan penampilan terbaik sebagai kado untuk dunia teater di Nasional umumnya dan NTT, Flores Timur pada khususnya.

Dari Larantuka, sebuah kota kecil di ujung timur pulau Flores, geliatnya tumbuh melebarkan sulur - sulur.
Nara Teater, berakar di bumi terarah ke langit.
Memuliakan jiwa - jiwa merdeka !
Ina Benga Nara Teater pada Festival Teater Cirebon 2017 (Tulis Eda Tukan Melalui Akun Facebooknya usai pentas, 6/4/17)***



Rabu, 05 April 2017

UN di SMAN 1 Larantuka Aman

Kepala SMAN 1 Larantuka, Drs. Yakobus Milan Betan

Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Larantuka, Yakobus Milan Betan, mengatakan sejak hari pertama hingga hari ketiga, Senin- Rabu (3-5/4/17), pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SMAN 1 Larantuka berjalan dengan aman dan lancar.
“Sampai hari ketiga, pelaksanaan Ujian Nasional di SMAN 1 Larantuka aman dan lancar. Ada sedikit kendala teknis dihari pertama ujian yakni tidak ada keterangan jurusan di amplop luar soal ujian dan hari ini, ujian mata pelajaran Bahasa Inggris pada 2 ruang ujian  speaker yang digunakan siswa suaranya kurang jelas,  namun langsung berhasil diatasi saat itu juga. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti,’kata Kepala Sekolah.
Ditemui KabarFlotim di ruang kerjanya, Rabu (5/4/17) Milan Betan mengatakan, untuk  SMAN 1 Larantuka, jumlah peserta yang mengikuti ujian sebanyak 333 orang. Tersebar di 19 ruangan, dengan rincian; Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 7 ruangan, Jurusan Bahasa 4 ruangan dan Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 8 ruangan. Ditahun Pelajaran 2016/2017 SMAN 1 Larantuka masih melaksanakan ujian nasional dengan pensil dan kertas (UNPK). Tiga hari melaksanakan ujian, kami dipantau langsung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK)  Provinsi NTT, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) NTT) dan Pengawas Sekolah Menengah Atas Dinas P dan K NTT. Berkaitan dengan pengawasan, dilakukan sistem pengawas silang murni. SMAN 1 Larantuka mendapat pengawas luar dari SMAK St. Darius, SMAK St. Fransiskus Asisi, SMA Swasta PGRI larantuka, SMA Katolik Frateran Podor dan SMAN St. Yohanes Paulus Waibalun.
Menurut Kepala Sekolah, untuk tiga mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris, berdasarkan pengakuan siswa mata pelajaran yang paling sulit adalah matematika. “ Kemarin saat berdiskusi dengan siswa usai ujian mata pelajaran matematika, sebagian siswa mengaku lebih sulit jika dibandingkan dengan mata pelajaran bahasa indonesia. Namun mereka mampu menyelesaikannya tepat waktu. Sebagai pimpinan di lembaga ini, kami berharap hasil yang didapat oleh anak kami terkategori baik dan bisa lulus murni dari proses ini,’kata Milan. ***


Rabu, 15 Maret 2017

Rumah Adat Suku Koten, Ada di Kampung Adat Keka

Kampung Lama/Kampung Adat Keka
Rumah Adat Suku Koten, berlokasi di Kampung Adat Keka, Desa Waibao Kecamatan Tanjung Bunga. Di lokasi ini, selain Rumah Adat utama milik Suku Koten terdapat dua rumah lain milik Suku Kelen dan Brinu yang berdekatan satu dengan yang lainnya. Tak jauh dari kompleks rumah adat, terdapat Pekuburan Umum Keka.
(Rumah Adat Suku Kelen)

Frans Koten Tokoh Adat Suku Koten, Sabtu (11/3/17)  menuturkan, tempat tinggal mereka saat ini di Riangpuho sebenarnya bukan kampung asli. Kampung Adat mereka ada di Kampung Adat Keka. Kampung Adat Keka oleh warga disebut juga sebagai Kampung Lama. “Kampung Adat kami sesungguhnya ada di sini. Karena di sinilah rumah adat kami dibangun.Tempat ini tidak banyak yang tahu. Kami berpindah ke Riangpuho sekitar tahun 1980,  memenuhi program pemerintah untuk tinggal di pemukiman baru Riangpuho. Segala urusan adat dan penguburan orang mati kami lakukan di tempat ini. Kami tidak akan melupakan tempat ini, walau tempat tinggal kami jauh,”tutur Frans. 
(Rumah Adat Suku Brinu)

Jarak pemukiman dengan Kampung Adat Keka kurang lebih 7Km. Pantauan Penulis, jalan menuju ke Kampung Adat Keka masih jalan setapak. Untuk menjangkau lokasi ini, kita bisa berjalan kaki atau menggunakan kendaraan sepeda motor, masuk dari arah timur Danau Waibelen, kita berbelok ke arah kanan menempuh perjalan sekitar 2Km. Di tempat ini, tidak ada penghuninya. Jika tidak ada seremoni adat, lokasi kampung Adat Keka sepih. Warga sekedar singgah saat pulang dari kebun atau sekedar istirahat bagi yang kebunyanya dekat dengan lokasi ini. 
(Foto dengan latar Rumah Adat Suku Koten)

Ada harapan dari Tokoh Adat Suku Koten, Frans Koten, Matias Raja Koten, dan Siprianus Sogan Koten, kepada pemerintah Kabupaten Flores Timur, untuk memperhatikan jalan menuju ke Kampung Adat mereka. (Mmk)


22-24 Mei 2017, IKTL GELAR SEMINAR NASIONAL

Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) bekerjasama dengan Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja. akan menggelar Seminar Nasional pada Senin hingga Rabu, 22- 24 Mei 2017. Kegiatan akbar ini akan dipusatkan di Kampus IKTL, Jalan Ki Hajar Dewantara, Kelurahan Waibalun Kecamatan Larantuka Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Seminar Nasional yang berlangsung selama tiga hari dengan tema Pendidikan Karakter Berbasis Multibahasa dan Multibudaya Bangsa” ini, menghadirkan sedikitnya 9 orang Profesor Doktor, dan 5 orang Doktor. Mereka diantaranya; Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M. Hum, Pembicara Kunci (Keynote Speaker) dengan tajuk “Strategi Pendidikan Karakter Berbasis Multibahasa dan Multibudaya  Bangsa”. Pemakalah Utama, Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A (Unidiksha, Singaraja) dengan tajuk “Pentingnya Pendidikan Nilai demi Membentuk Karakter Bangsa”, Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A (Undiksha, Singaraja) dengan tajuk “Pendidikan Bahasa Asing Bermuatan Sumber Daya Kearifan Lokal”, Prof. Dr. Feliks Tan, M.A (Undana, Kupang) dengan tajuk “Pendidikan Bahasa Inggris dan Penguatan Karakter Bangsa”, Prof. Dr. Aron Meko Mbete (Unud, Denpasar)  dengan tajuk “Pendidikan Multilingual Bermuatan Multikultural demi Penguatan Pilar Jati Diri dan Karakter Ke-Indonesiaan”, Prof. Dr. Ir. I Gede Suranaya Pandit,  M.P (Universitas Warmadewa, Denpasar) dengan tajuk “Pengembangan Teknologi Hasil Perikanan demi Penguatan kembali Budaya Kebaharian Bangsa Indonesia” ,  Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S (USU, Medan) dengan tajuk “Pendidikan Karakter Bangsa Berbasiskan Kearifan Lokal  Nusantara”, Prof. Dr. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A (Unud, Denpasar) dengan tajuk “Alih Wahana Lintas Bangsa Sebagai Strategi Pensemestaan Kearifan Nusantara”, Prof. I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A (Undiksha, Singaraja) dengan tajuk “Pendidikan Bahasa Inggris Bermuatan Kearifan Nusantara: Penguat Jati Diri Peserta Didik”, Dr. Hugo Warami, M. Hum (Unipa, Manokwari) dengan tajuk “Hak Lingual Kultural Suku Bangsa dan Strategi Pemberdayaannya” , Dr. Maria Agustina Kleden, M.Sc (Undana, Kupang) dengan tajuk “Pendidikan Matematika: Pembentuk Karakter yang Cermat dan Konsisten” , Dr. La Ino, M. Hum (Universitas Halu Oleo, Kendari)  dengan tajuk “Menggali Butir-butir Kearifan dalam Bahasa Lokal sebagai Modal Budaya Bangsa”, Dr. Kanisius Rambut,  M.Hum (Uniflor, Ende) dengan tajuk “Bahasa-bahasa Lokal: Sumber Energi Budaya dan Ekonomi Kreatif” dan Dr. Maria Matildis Banda, M.S (Unud, Denpasar) dengan tajuk “Pembentukan Karakter Ke-Indonesiaan Melalui Pembelajaran Sastra   Nusantara”
Sementara itu, tuan rumah menyiapkan dua pembicara diantaranya, Vinsensius Crispinus Lemba, S. Fil. M.Pd (Rektor IKTL) dengan tajuk “Ancangan Model Manajemen Sekolah dan Pendidikan Keluarga Berbasis Kearifan Lokal” dan Romo Thomas Darang Labina, S.Fil., M.Pd (Ketua Yapersuktim) Dengan tajuk “Filosofi dan Paradigma Pendidikan Karakter Anak Bangsa dalam Perspektif Iman Kristiani: Bermula dari Karakter Pendidik”. Diundang juga Narasumber Pendamping dari IKTL maupun dari luar IKTL, untuk menyajikan makalah dengan topik yang sesuai dengan tema seminar. Penyajian makalah pendamping dilakukan secara paralel.
Kristoforus Aran Ketua Panitia kepada Agupena Flotim (14/3/17) mengatakan, tujuan Seminar nasional adalah; Sebagai forum ilmiah bagi para pakar  dan pemerhati sosial untuk membedah masalah “kerapuhan” karakter manusia Indonesia dalam konteks pendidikan nilai-nilai berbasiskan kemajemukan bangsa, menemukan kerangka pemikiran ihwal solusi dan strategi pendidikan karakter ke-Indonesiaan bagi generasi baru berbasis kearifan lokal, kekayaan budaya, tradisi, dan bahasa dan merumuskan kerangka dan ancangan model pendidikan karakter berbasiskan keilmuan, baik ilmu-ilmu pendidikan maupun ilmu terapan informatika dan kebaharian-kelautan, dan ilmu pengetahuan lainnya.
Menurut Kristo, target capaian dalam Seminar Nasional ini adalah, terbukanya wawasan tentang pentingnya penanaman nilai-nilai pendidikan nasional berbasiskan lingkungan ke-Indonesiaan dengan keberagamannya, tumbuhnya kesadaran baru ihwal pentingnya penanaman nilai-nilai berbasis bidang-bidang ilmu terapan (pendidikan kebahasaan (Indonesia, Inggris), matematika, tata niaga, pendidikan jasmani dan kesehatan, teknologi informatika, teknologi hasil perikanan, dan sebagainya), tereksplorasi, terpetakan dan terdokumentasikannya kearifan masyarakat dan gagasan strategis tentang model atau ancangan pendidikan dan pembelajaran multilingual dan multikultural sebagai inspirasi dan sumber bahan pendidikan bagi pihak-pihak terkait untuk menerapkan dan mengembangkannya lebih lanjut.
            Dalam rancangan Panitia Penyelenggara, peserta yang akan dilibatkan dalam Seminar Nasional terdiri dari para dosen dan mahasiswa, para guru dan pelajar, para tokoh masyarakat, baik yang berasal dari Kabupaten Flores Timur maupun dari Kabupaten Sikka, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ende, dan dari daerah lainnya.
Penyelenggaran Seminar Nasional ini dibiayai dan difasilitasi oleh IKTL, didukung oleh Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Undiksha, Singaraja. Selain itu, seminar ini dibiayai pula oleh para donatur, termasuk para narasumber, dan para peserta, dengan rincian: Pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya Rp. 100.000,00 (Seratus Ribu Rupiah), Masyarakat umum dikenakan biaya Rp. 200.000,00 (Dua Ratus Ribu Rupiah) untuk biaya snack, makan siang, makalah, seminar toolkit dan sertifikat kepesertaan. Pemakalah pendamping dikenakan biaya Rp. 350.000,00 (Tiga Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) untuk biaya presentasi dan prosiding, serta biaya snack, makan siang, makalah, seminar toolkit dan sertifikat kepesertaan. Fasilitas seminar berupa ruang sidang pleno dan sidang paralel, serta fasilitas sederhana lain yang berkaitan dengan kebutuhan dan demi kelancaran seminar akan disiapkan oleh panitia. Pendaftaran peserta dan bantuan dana dari donator dapat melalui rekening BPD NTT Cabang Larantuka a.n PANITIA SEMINAR NASIONAL IKTL nomor rekening : 011.02.02.050823.4.
Kontak perorangan demi kelancaran informasi dan persiapan dapat dilakukan dengan, Hironimus B. Wolo, M.Hum, Hp: 085253345385,surel:hironimusbaowolo@yahoo.com, Mudmainna, SE, M.Si, Hp:081353404825. Panitia, surel: Surel: iktlsemnas@yahoo.com. (Mmk)*


\